Terkini.id, Jakarta- Sebelumnya, kepala staf TNI AD (KSAD), Jenderal TNI Dudung Abdurachman mengeluarkan pernyataan tentang ‘jangan terlalu dalam mempelajari agama’.
Pernyataan tersebut ditayangkan di akun Youtube Dispenad, saat beliau memberikan kultum usai shalat subuh bersama prajurit Kodam XVIII/Cenderawasih.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad), Brigjen TNI Tatang Subarna, telah memberikan penjelasannya mengenai pernyataan Jenderal Dudung tentang ‘jangan terlalu dalam mempelajari agama’ yang menimbulkan kontroversi tersebut.
Brigjen Tatang mengungkapkan bahwa maksud pernyataan beliau tersebut yaitu dalam mempelajari agama harus ada pendampingan guru atau ustad.
Sebab, mempelajari agama tanpa pendampingan ahli bisa berpotensi terjadi penyimpangan.
- Jelang Pemilu 2024, Ini Seruan KSAD Jenderal Dudung ke Prajurit TNI AD
- Effendi Simbolon Minta Maaf Bersumpah Tidak Pernah Judge TNI
- Semakin Panas, Anggota DPR RI Effendi Simbolon Bersitegang dengan KSAD Jenderal Dudung
- Biasanya Dituduh Hina Islam, Jenderal Dudung Kini Dipuji PKS: Jadi yang Terdepan!
- Waduh! Posting Foto Jenderal Dudung, Pak Lurah: Predator KM 50 ...
Melansir dari detik.com, pada Senin, 06 Desember 2021, Brigjen Tatang mengatakan “Itulah maksud yang disampaikan Kasad pada video pada saat memberikan kultum usai shalat Subuh bersama prajurit Kodam XVIII/Cenderawasih,”.
Brigjen Tatang Subarna sendiri memang menghadiri kegiatan kultum tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, KSAD menjelaskan saat ini banyak orang yang mendalami agama tanpa ada guru yang ahli. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mudah diperdaya oleh oknum yang menafsirkan agama tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.
“Dengan belajar agama sendiri, apalagi secara mendalam tanpa guru, cenderung akan mudah terpengaruh. Pada akhirnya justru akan dapat menimbulkan penyimpangan-penyimpangan,” katanya, dikutip dari detik.com.
“Misalnya, kata hadis ini ikut. Kemudian, kata hadis yang lain, juga ikut. Oleh karenanya, jangan terlalu dalam mempelajari agama tanpa guru pembimbing yang ahli. Berbeda apabila ada yang mengarahkan dan membimbing dengan benar dan ahli,” lanjutnya.
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas pun juga merespon pernyataan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman terkait penyataan ‘jangan terlalu dalam mempelajari agama’ tersebut.
Yaqut Cholil memberikan pernyataan bahwa beliau mengaku tidak tahu persis apa yang disampaikan Jenderal Dudung.
“Saya tidak tahu persis apa yang dimaksud dan yang dipidatokan KSAD,” ungkapnya.
Namun, Yaqut menilai bahwa yang dimaksud Jenderal Dudung adalah tidak belajar agama terlalu dalam sendirian. Tetapi harus ada pendampingan dari guru, kiai, atau ulama.
“Tetapi saya bisa menduga, yang dimaksud adalah jangan belajar agama sendiri terlalu dalam. Tetapi dalamilah agama dengan bimbingan guru atau kiai atau ulama. Sebagaimana Al Ghazali sampaikan; barangsiapa yang tidak mempunyai guru yang memberi petunjuk, maka setan yang akan menuntunnya,” tambah Yaqut.
Menteri Agama RI tersebut kemudian mengatakan bahwa “Imam Abu Yazid Al Bustomi dalam bahasa lain mengatakan; barangsiapa tidak mempunyai guru, maka imamnya adalah setan. Tapi apa maksud sebenarnya dari pernyataan KASAD, tentu beliau sendiri yang tahu,”.
Selain itu, Wamenag, Zainut Tauhid mengajak masyarakat untuk tabayyun dan meneliti terlebih dahulu maksud dari Jenderal Dudung. Dengan demikian, hal tersebut tidak akan menimbulkan kesalahpahaman.
“Saya belum mendengar secara persis apa yang disampaikan Pak KSAD, Mas. Sebaiknya semua pihak melakukan tabayyun atau crosscheck terlebih dahulu sebelum memberikan komentar. Sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada kegaduhan,” tutur Zainud Tauhid.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
