Mengapa Perempuan Selalu Disalahkan dalam Pelecehan Seksual?

Ilustrasi

Perempuan sering sekali mengalami pelecehan seksual. Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang mengarah kepada hal seksual (pemuasan kebutuhan seksual).

Pelecehan dilakukan oleh satu pihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi korban sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti benci, marah, malu, sedih, tersinggung, dan lain sebagainya.

Pelecehan seksual bisa mengarah menjadi kekerasan seksual jika tindakan yang dilakukan oleh pelaku pelecehan seksual sudah menimbulkan bekas atau perlukaan, maka tindakan itu digolongkan menjadi kekerasan seksual.

Pelecehan seksual yang sering sekali dialami oleh kalangan perempuan adalah catcalling. Catcalling adalah pelecehan seksual ringan yang biasanya dilakukan secara non-verbal, semacam ejekan atau komentar yang bersifat seksual secara langsung kepada seorang perempuan yang sedang lewat, biasanya terjadi ditempat umum.

Sementara itu sebagian orang tidak menyadari atau mungkin tidak tahu bahwa catcalling adalah termasuk dari tindakan pelecehan seksual. Sebagian besar laki-laki yang melakukan catcalling kepada perempuan bukan disebabkan oleh pakaian perempuan tersebut.

Menurut survei yang dilakukan, dari 16 responden laki-laki, sebanyak 84.4% mengaku “Hanya iseng, untuk mendapatkan perhatian dari perempuan”. Dengan itu dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari laki-laki menyatakan bahwa melakukan catcalling hanya sebatas iseng.

Pelecehan Seksual Tidak Hanya Menimpa Perempuan Berpakaian Seksi

Kasus pelecehan seksual banyak sekali yang dialami oleh para perempuan dalam bentuk sentuhan seksual. Sentuhan seksual adalah kontak fisik yang bertujuan untuk menggoda.

Pada tahun 2017-2018 adanya beberapa kasus pelecehan seksual yang tidak memandang dari pakaian seorang perempuan yang sempat beredar di media. Antara lain:

  1. Kasus Begal Payudara

Kejadian ini sempat viral pada bulan Januari 2018. Pelecehan seksual ini terjadi pada seorang karyawati berkerudung.

Saat tengah berjalan seorang diri, karyawati tersebut tiba-tiba diremas payudaranya oleh seorang laki-laki yang sedang menegndarai motor.

  1. Viralnya berita pelecehan seksual tentang pria yang mengeluarkan alat kelaminnya dan menggesekkannya kepada wanita di KRL

Pelecehan seksual ini terjadi di KRL jurusan Jakarta Kota-Cikarang, dimana situasi dalam KRL tersebut sangatlah padat.

Ketika itu seseorang berinisial V melihat seorang laki-laki mengeluarkan dan menggesekkan alat kelaminnya ke bokong perempuan berkerudung.

Tentunya masih banyak lagi kasus-kasus pelecehan seksual yang bukan disebabkan oleh pakaian perempuan. Kasus-kasus diatas merupakan beberapa contoh kasus yang sempat viral di media sosial.

Jika dilihat dari semua contoh kasus diatas, kebanyakkan korban adalah perempuan berkerudung. Memakai kerudung adalah hal yang diwajibkan oleh Agama Islam yang bertujuan untuk menutup aurat.

Dengan adanya kasus pelecehan diatas terbukti bahwa hal itu tidak begitu menjamin untuk terhindar dari perlakuan kejahatan seperti pelecehan seksual.

Pada tahun 2016 dalam diskusi dengan tema ‘Kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak serta solusinya’.  Komisioner Komnas Perempuan dan Anak, Siti Nur Herawati sempat menyatakan “Kenapa yang disalahkan pihak perempuan, hanya karena dengan menggunakan pakaian yang minim dan tubuhnya yang mengundang,”.

“Kalau begitu sama saja termasuk dikriminasi terhadap perempuan. Kenapa tidak laki-laki saja yang menahan hawa nafsu.” sambungnya.

Pada dasarnya penyebab dari pelecehan seksual bisa dari pihak perempuan atau bisa juga dari pihak laki-laki. Pelecehan seksual yang disebabkan oleh pihak perempuan biasanya memang dari cara berpakaian perempuan, seperti menggunakan pakaian yang ketat atau minim sehingga menarik dan memancing perhatian sang laki-laki.

Jika pelecehan seksual disebabkan oleh pihak laki-laki bisa saja terjadi karena pihak laki-laki memiliki pikiran kotor atau memiliki hasrat seksual yang berlebih.

Pemicu Laki-laki Melakukan Pelecehan Seksual

Berikut adalah faktor yang dapat menjadi pemicu laki-laki untuk melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan, antara lain:

  1. Lingkungan sosial
  2. Korban mudah ditaklukkan, sehingga pelaku menganggap bahwa perempuan jauh lebih lemah.
  3. Hasrat seks yang tidak bisa disalurkan. Hal ini menyebabkan pelaku menyalurkan nafsunya dengan melakukan pelecehan seksual.
  4. Mengalami penurunan moral
  5. Memiliki fantasi seksual yang mendukung adanya kekerasan seksual.
  6. Sering melihat / menyaksikan konten-konten yang berbau pornografi.
  7. Menyepelekan hukum yang ada.

 

Salah satu faktor yang dapat menjadi pemicunya pelecehan seksual karena laki-laki terlalu sering melihat sesuatu yang berkonten pornografi. Tentunya hal tersebut memiliki dampak bagi pelaku dari pelecehan seksual.

Hal itu berpotensi menimbulkan kerusakan 5 bagian otak yang berperan di dalam kontrol perilaku yang menimbulkan perbuatan berulang-ulang terhadap pemuasan seksual.

Para perempuan tentunya merasa takut setelah menjadi korban dari pelecehan seksual, Oleh karena itu jika hal tersebut sudah menyakiti perasaan atau menyakiti fisik jangan ragu-ragu untuk mencari pertolongan dan support.

Dengan demikian harus mengetahui juga seberapa besar hal itu mempengaruhi aktifitas sehari-sehari. Jika hal itu sudah mempengaruhi, cobalah untuk cerita dengan orang terdekat seperti keluarga, sahabat atau pacar serta meyakinkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Memangnya hal ini tidak mudah untuk diterima oleh perempuan yang telah menjadi korban pelecehan seksual dan tentunya perempuan berhak untuk marah karena tindakan tersebut sudah membuatnya tidak nyaman, tetapi mau tidak mau perempuan yang sudah diperlakukan seperti itu tetap harus menerima kenyataannya.

Jadi cobalah untuk meluapkan emosi dengan melakukan aktivitas yang disukai contohnya seperti olahraga, jalan-jalan bersama teman, keluarga maupun pacar dan lain-lain sehingga dapat melupakan hal tersebut.

 

Cara Agar Perempuan Terhindar dari Pelecehan Seksual

Perempuan tentunya tidak ingin dilecehkan, sebab itu perempuan harus lebih behati-hati dan teliti pada diri sendiri, berikut adalah 6 cara untuk terhindar dari pelecehan seksual:

  1. Penampilan / pakaian yang di pakai

Sebagian orang berpendapat bahwa terjadinya pelecehan seksual disebabkan oleh penampilan sang perempuan. Oleh karena itu setiap perempuan sangat di sarankan untuk menjaga cara berpakaian sesuai dengan tata krama.

  1. Keberanian

Para perempuan harus berani untuk melawan setiap tindakan pelecehan seksual yang terjadi pada dirinya.

  1. Ketegasan

Para perempuan berhak dan harus berani untuk menolak dengan tegas pada seiap faktor yang berpotensi pelecehan seksual terhadap mereka.

  1. Membawa alat bela diri

Alat bela diri yang dimaksud adalah seperti Semprotan lada (pepper spray). Dengan membawa alat bela diri, akan membantu melindungi para perempuan jika ada seorang yang berniat untuk jahat seperti pelaku pelecehan seksual yang bersifat memaksa.

  1. Kemampuan bela diri

Memiliki kemampuan bela diri akan melengkapi perlindungan pada seorang wanita tentunya. Contohnya seperti memendang atau memukul seorang pelaku.

  1. Hindari jalanan yang sepi

Jalan yang sepi kemungkinan besar menjadi peluang bagi pelaku kriminal seperti pencopetan, pemerkosaan dan lainnya. Sebaiknya hindari jalanan yang sepi ketika sendirian.

Kasus pelecehan seksual memang masalahnya tidak dapat diselesaikan atau menghakimi siapa yang salah sebenarnya. Semua itu tergantung dari diri kita masing-masing.

Untuk para perempuan, cobalah untuk menjaga anggota tubuh kalian dengan berpakaian yang sewajarnya dan harus menyesuaikan dengan kita ada dimana. Sebab pelecehan seksual itu pasti bisa terjadi dimana saja.

Sebagai seorang perempuan kita harus lebih memahami kodratnya laki2 yaitu menyukai hal hal yang seperti itu. Saat ini banyak para laki-laki yang masih melakukan pelecehan seksual karena masih dianggap “sepele” dan tentunya banyak laki-laki diluar sana masih tetap melakukan hal kejahatan seperti itu.

Jika pelecehan seksual yang dialami sudah sangat fatal maka jangan ragu untuk mencari pembelaan dan melaporkan kepada yang berwewenang agar kejadian tersebut tidak dapat terulang lagi kepada perempuan yang lainnya.

Dinda Alyzha

Mahasiswi STIKOM London School of Public Relation

Berita Terkait