Terkini.id, Washington – Menteri ekonomi AS bakal diutus ke China, terkait utang Amerika yang meningkat? Belum lama ini beredar kabar yang tidak mengenakkan di tengah iklim ekonomi Negeri Paman Sam yang kian melandai. Berita itu menyoal meningkatnya utang Amerika Serikat (AS), sehingga muncul rumor Menteri Keuangan Janet Yellen akan mengunjungi China dalam beberapa bulan mendatang.
Kabar itu pertama kali dilaporkan Bloomberg pada Kamis 12 Agustus 2021 lalu. Dikutip dari sebuah sumber, dibeberkan jika AS melalui Departemen Keuangan akan mengunjungi Beijing dalam waktu dekat kendati hal itu masih dalam tahap diskusi awal.
Jika kunjungan itu terjadi, Yellen kemungkinan akan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He, dan ia akan menjadi pejabat tertinggi dalam pemerintahan Presiden Joe Biden yang ditunjuk untuk mengunjungi China.
Menanggapi berita tersebut, Juru Bicara Departemen Keuangan AS Lily Adams mengatakan, tidak ada rencana bagi Yellen untuk melakukan perjalanan ke China dalam waktu dekat atau pada musim gugur ini antara September-Desember 2021.
Para ekonom di China telah menafsirkan potensi kunjungan Yellen itu sebagai petunjuk yang diberikan pemerintah AS, yang menyiratkan pihaknya bersedia untuk meningkatkan komunikasi dengan China, kendati pejabat AS berharap China akan mengambil inisiatif dan mengundang mereka untuk melakukan pembicaraan.
“AS mungkin ingin membahas landasan bersama ekonomi kedua negara dan melakukan beberapa kerja sama yang saling menguntungkan, terlepas dari kebisingan politiknya terhadap China,” kata Xi Junyang, seorang profesor di Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanghai, seperti dikutip dari Global Times via RMOL, Jumat 13 Agustus 2021.
Kecenderungan AS untuk meningkatkan komunikasi, dan mengatur ulang hubungan dengan China, muncul ketika pemerintahan Presiden Joe Biden terlibat dalam tinjauan luas kebijakan terhadap China.
Sementara itu, seperti dilansir dari RMOL.id, Sabtu 14 Agustus 2021, pemerintah AS juga menghadapi tekanan yang meningkat dari kalangan komersialnya. Tekanan itu menyuarakan secara tegas agar pemerintah membalikkan kebijakan perdagangan dan teknologi yang tidak bersahabat terhadap China.
Menurut laporan media, lusinan kelompok bisnis AS baru-baru ini mendesak pemerintahan Joe Biden untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan China-AS, dan memotong tarif impor barang-barang China, setelah mereka merasakan kerugian yang disebabkan tarif tersebut pada bisnis mereka.
Pakar perdagangan di Akademi Ilmu Sosial China di Beijing, Gao Lingyun mengatakan, salah satu masalah penting yang kemungkinan akan dibahas Yellen dengan pejabat China adalah meningkatnya utang AS. Pasalnya, negara tersebut telah mencapai batas pinjaman federal dan berisiko mengalami kerugian.
“Karena kemungkinan default, investasi negara-negara luar negeri di AS tunduk pada ketidakpastian. Dalam keadaan ini, AS ingin China memberikan bantuan, seperti menyatakan kepercayaannya pada ekonomi AS atau terus membeli utang AS,” beber Gao.
Dari Maret 2021 hingga Mei 2021, China mengurangi kepemilikan obligasi Treasury AS sebesar 26,2 miliar dolar AS. Negara-negara lain seperti Rusia dan Prancis mengambil langkah serupa dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebagai imbalannya, AS kemungkinan akan melonggarkan kebijakan tarif impor. Ini dapat mencakup langkah-langkah untuk membebaskan lebih banyak produk dan perusahaan dari daftar tarif, atau menghapus tarif tersebut,” imbuh Gao.
Para ahli juga mencatat, hasil pembicaraan Yellen akan memiliki pengaruh langsung pada pemilihan paruh waktu AS pada 2022.
“Jika pembicaraan mengarah pada langkah-langkah yang bermanfaat bagi ekonomi AS, seperti China berjanji untuk membeli sejumlah besar barang AS, itu akan menjadi bonus bagi Biden,” terang para ahli.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
