Terkini.id, Jakarta – Imam besar Masjid Raya New York Shamsi Ali menanggapi pernyataan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj yang meminta agar dosen tidak banyak mengajarkan ilmu tentang Akidah.
Diketahui sebelumnya, dalam mengisi sebuah diskusi, Said Aqil meminta dosen yang umum untuk mengurangi ajaran tentang akidah.
Said menilai hal tersebut dapat mencegah bersebarnya paham radikal di kalangan anak muda.
“Bagi dosen agama yang mengajar agama di bukan fakultas agama, tidak usah banyak-banyak bincang akidah dan syariah. Cukup dua kali pertemuan. Rukun iman dan (rukun) islam,” kata Said.
“Tapi kalau dosen yang mengajar di fakultas yang umum, Teknik, hukum misalkan enggak usah banyak-banyak tentang aqidah dan syariah, cukup dua kali,” tambahnya.
- Tanggapi Penetapan Ferdy Sambo Sebagai Tersangka Kasus Penembakan Brigadir J, Said Aqil: Bersih-Bersih Oknum Polri
- Heboh Soal Khilafah, Said Aqil: Khalifah Sudah Tidak Ada Kemampuan!
- Singgung Pembuat Gaduh Negara, Said Aqil: Kata Quran Usir Mereka
- Said Aqid Jadi Komisaris Utama KAI, Menag Yaqut Berterimakasih ke Erick Thohir
- Bandingkan Mudik Wajib Booster dengan Mandalika, Said Aqil: Indonesia Pincang
Hal itu dinilai Said Aqil bisa menimbulkan radikalisme jika banyak membicarakan soal hal-hal metafisik.
“Kenapa? Kalau ini diperbanyak, nanti isinya, surga-neraka, Islam, kafir, lurus, benar, sesat. Terus-terusan bicara itu radikal jadinya,” jelasnya.
Shamsi kemudian menilai bahwa pernyataan dan alasan Said adalah keliru.
Dilansir dari CNN Indonesia, Shamsi menyorot cara berpikir Said hingga munculnya pernyataan begitu.
“Saya menilai cara berfikir ini kontra logika. Mendalami akidah menjadi penyebab radikalisme?” tulis Ali melalui akun Twitter pribadinya, Rabu, 7 April 2021.
“Atau harusnya gila untuk memahami pemikiran yang gila?” tanya Ali kemudian.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
