Museum Mulai Ditinggalkan, Begini Harapan Sri Sultan Hamengkubowono X di Peringatan Hari Museum Nasional

Terkini.id, Jakarta- Yogyakarta menggelar Peringatan Hari Museum Indonesia. Kegiatan ini mengangkat tema ‘Bersama Museum Membangun Ketangguhan Bangsa’.

Dalam sambutannya, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X  bicara persoalan terkini yang dihadapi museum.

“Mungkin karena museum terkesan sebagai tempat tumpukan peninggalan sejarah yang lusuh dan berdebu sehingga para siswa lebih memilih berkunjung ke mal atau kafe,” ujar Sultan Hamengkubowono dalam rilis Ketua Asosiasi Museum, Kamis 14 Oktober 2021.

Baca Juga: Didenda Rp 48 Juta, Korban Pinjaman Online: Katanya Mau Menolong,...

Puncak peringatan Hari Museum Indonesia ini disiarkan melalui channel Youtube Barahmus DIY dan AMI (Asosiasi Museum Indonesia).

Lebih lanjut Sultan menyebutkan mungkin karena kurang aspiratif, atraktif dan tidak menghibur, akhirnya membuat para pelajar meninggalkan museum.

Baca Juga: Berhenti Berpikir Jadi PNS, Akbar Faisal: Negara Sudah Tidak Mampu...

Hal itu dapat dilihat dari gelombang kunjungan ke museum. Kebanyakan adalah kelompok ‘paksawan’, yakni para pelajar yang dipaksa mengikuti program study tour atau kunjungan belajar.

Selain itu, Sultan juga megatakan perlu ada strategi baru agar kunjungan ke museum meningkat. Sebab menurutnya mengingat akan sejarah bukan cuma sekadar pengetahuan masa lalu.

Bung Karno pernah mengingatkan jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Karena itu kita khawatir jika distorsi sejarah masuk dalam mata ajar di sekolah,” tegasnya.

Baca Juga: Berhenti Berpikir Jadi PNS, Akbar Faisal: Negara Sudah Tidak Mampu...

“Saya berharap museum menjadi jembatan informasi edukatif bagi warga masyarakat bangsa Indonesia,” harapnya.

Dilansir dari Detikcom, Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana menyampaikan peristiwa sejarah tersimpan rapi di museum. Dalam 2 tahun terakhir, kata Supadma, museum Indonesia menunjukan ketangguhannya di tengah lesunya ekonomi akibat pandemi COVID-19.

“Kini museum menghadirkan dan menceritakan kembali semua kisah agar generasi muda mengetahui sejarah bangsanya,” kata Supadma.

Supadma mengatakan museum menyajikan identitas melalui presentasi warisan, mempromosikan pluralitas dan keragaman identitas.

Secara umum, lanjut Supadma, museum menyatukan keragaman bangsa, menampilkan identitas etnis kelompok maupun personal, mengajarkan, mempelajari, dan mendalami budaya lain untuk menghindari konflik demi menjaga persatuan kesatuan bangsa.

Di masa pandemi, museum dinilai dapat memberikan sensibiltas sosial, berkontribusi terhadap perubahan sosial yang lebih baik dengan mengangkat isu yang relevan dengan masa kini, baik multikulturalisme, perempuan, lingkungan dan kesehatan sehingga dalam konteks yang luas museum dianggap berperan membangun ketangguhan bangsa.

“Perayaan Hari Museum Indonesia adalah perayaan seluruh rakyat Indonesia, semoga museum terus tumbuh dan semakin tangguh dalam menggapai cita-cita bangsa. Salam museum di hatiku,” kata Supadma.

Ketua Panitia 50 Tahun Barahmus DIY, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, mengatakan Yogyakarta tak bisa lepas dari sejarah dan museum. Pasalnya, di Yogyakarta pula para tokoh nasional melakukan musyawarah membahas museum untuk pertama kalinya pada tahun 1962.

“Itu merupakan sebuah tonggak sejarah bagi dunia permuseuman nasional Indonesia,” ujarnya.

Bagikan