Terkini.id, Jakarta – Kudeta militer di Myanmar rupanya belum juga usai. Berbagai demonstrasi terjadi di mana-mana hingga aksi bentrok dengan para aparat penegak hukum pun tak dapat terelakkan.
Beberapa waktu lalu, wanita Myanmar yang pernah tertembak di kepala pada 1 Februari 2021 karena ikut demo kudeta militer di Myanmar akhirnya meninggal dunia.
Namanya Mya Thwe Thwe Khaing, seorang gadis muda yang usianya bahkan dikabarkan baru akan menginjak 20 tahun.
Mya adalah seorang pekerja di sebuah Toserba yang terluka saat polisi berusaha membubarkan aksi demo di awal bulan Februari ini.
Diketahui bahwa Mya sempat menjalani perawatan selama kurang lebih sepuluh hari sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada hari Kamis lalu, 18 Februari 2021.
- Wabup Gowa dan Suami HT Bersama Melayat ke Rumah Duka Eks Sopir Bupati, Sampaikan Duka Mendalam
- Pentas Seni Akhir Ajaran 2025-2026, TK Hj Sitti Aminah Lepas Siswa Menuju Jenjang Pendidikan SD
- JNE Menyambung Niat Mulia Para Donatur Bencana untuk Tujuan Kemanusiaan
- Gema Tanpa Kata: Pertunjukan Paduan Suara Teman Tuli
- Tak Ada Anggaran Hibah, Ketua DPRD Sulsel Upayakan Dana NPCI Lewat APBD Perubahan
Karena kasus tersebut, kini Mya menjadi simbol bagi para demonstran yang memprotes aksi kudeta militer.
Peti matinya bahkan dibawa ke jalan-jalan dengan mobil jenazah berwarna hitam dan emas seraya dikawal oleh ratusan sepeda motor.
Kini, setelah kepergian Mya Thwe Thwe Khaing, lagi-lagi jumlah korban tewas akibat penembakan di kepala bertambah.
Seperti yang dilansir dari CNBC Indonesia yang bersumber dari Routers, seorang lelaki anti-kudeta turut dipastikan menjadi korban tewas kedua dalam kudeta Myanmar setelah ditembak oleh polisi di kepalanya tatkala melakukan aksi unjuk rasa di Kota Mandalay, Myanmar pada hari Sabtu, 20 Februari 2021 lalu. Kabar tersebut dilaporkan oleh asisten editor Voice of Myanmar, Lin Khaing.
Diketahui bahwa polisi menembakkan senjata pada kerumunan para awak kapal yang mogok kerja untuk berunjuk rasa di kota Mandalay demi menentang kudeta yang terjadi di negara tersebut.
Akibatnya, beberapa orang lantas mengalami luka berat dan segera dilarikan ke rumah sakit setempat. Namun, nahas, seorang lelaki dinyatakan tewas setelah tertembak di bagian kepala. Sama persis seperti kasus Mya Thwe Thwe Khaing.
Kematian sejumlah demonstran ini pun mengundang berbagai reaksi dari masyarakat sekitar maupun tokoh publik, salah satunya Sekjen PBB, Antonio Guterres.
Ia beranggapan bahwa peristiwa ini jelas merupakan penggunaan kekuatan yang mematikan. Selain itu, juga termasuk intimidasi serta pelecehan terhadap demonstran damai yang tidak dapat diterima.
“Penggunaan kekuatan yang mematikan, intimidasi, dan pelecehan terhadap demonstran damai tidak dapat diterima,” tegasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
