Penulis : Dr. Dewi Setiawati, SpOG, M.Kes
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Sore itu tubuh saya terasa sangat lelah. Sejak pagi saya bergelut dengan aktivitas kampus mengajar, rapat, membimbing mahasiswa.
Belum sempat rehat, saya lanjut ke ruang operasi, menangani kasus perlengketan hebat pasca perasi sebelumnya, dengan penuh was2 dan berakhir dengan baik, Alhamdulillah.
Namun tugas hari itu belum usai. Telepon dari suster di Poli bahwa sudah banyak pasien yang menunggu. Aku pun bergegas ke ruang poli kandungan.
- Eksplorasi Seni Visual Digital, Riswandi Kembangkan Teknik Pengolahan Foto dari Bulukumba
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
Dan, setelah semua pasien terlayani, ada satu pasien terakhir yang menunggu di poliklinik kandungan.
Dua gadis muda usia dua puluhan masuk ke ruang praktik. Satunya pasien, satunya sahabat. Saya tersenyum, mencoba tetap ramah meski energi hampir habis.
“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?”
Sang pasien memperkenalkan diri: Arini, 20 tahun, mahasiswi. Dengan ragu ia berkata:
“Saya sudah 4 bulan nggak haid, dok. Biasanya memang tidak teratur, tapi kali ini agak lama. Saya juga punya pembesaran kelenjar tiroid. Apa ada hubungannya?”
Ia membuka jilbabnya, memperlihatkan benjolan di leher.
Saya mulai anamnesis. Saat saya menanyakan soal hubungan personal, ia tertegun. Pandangannya menghindar. Wajahnya berubah.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
