Opini: Stigma yang Tak Kunjung Hilang

Sumber foto: voxpop.id Sumber foto: voxpop.id

Baru saja kita mendengar kabar membahagiakan pada beberapa hari terakhir, sungguh kagum dengan beberapa artis perempuan Indonesia seperti Maudy Ayunda yang baru saja direbut oleh dua universitas ternama dunia yaitu Stanford dan Harvard. Selain itu, jauh sebelum Maudy Ayunda, ada pula Tasya Kamila yang merupakan alumni Columbia University dan sekarang telah mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu dari satu orang anak.

Tetapi semua itu tidak menjadi halangan bagi Tasya untuk terus berdedikasi dalam ruang pendidikan Indonesia dan berkontribusi sesuai dengan bidang yang ia fokuskan walau dibanjiri opini publik yang mempertanyakan akan gelar S2 yang ia raih namun pada akhirnya akan tetap menjadi seorang ibu rumah tangga. Dilansir dari sejumlah berita terkait hal ini, Tasya Kamila lantas bertanya, “Apa salahnya menjadi ibu yang berpendidikan tinggi?

Berkaitan dengan hal itu, di era sekarang saja, masih terdapat dan tidak sedikit pula stigma yang masih melekat dan menganggap wanita tak perlu berpendidikan tinggi dengan alasan seperti, “Nanti ujung-ujungnya di dapur juga, mengurusi keluarga.” Bahkan dengan kehadiran stigma tersebut, tak sedikit anak perempuan yang langsung dinikahkan di beberapa daerah di Indonesia agar mengurangi beban keluarga dan menjadi elegi tersendiri yang dapat mengubur mimpi anak-anak perempuan sehingga menjadi korban pernikahan dini.

Ataupun ujaran lainnya yang tak jarang ditemui dengan makna sejenisnya, memberikan sebuah ketidaknyamanan tersendiri terhadap perempuan yang seharusnya pada zaman sekarang, stigma itu harus dibuang jauh-jauh. Terkungkungnya peran perempuan akibat konstruksi sosial masyarakat dan budaya patriarki yang mengakar kuat pada pola pikir masyarakat, memberikan dampak yang krusial terhadap perempuan.

Di negeri tirai bambu ada sebuah kategori khusus bagi wanita berusia 27 tahun keatas yang notabene sedang fokus dengan pendidikan dan belum menikah disebut sebagai sheng-nu atau perempuan ‘sisa’. Sungguh ironis bahwa stigma negatif terhadap perempuan berpendidikan tinggi tak hanya hadir di Indonesia bahkan di beberapa negara seperti Tiongkok juga memiliki kategorisasi yang sama.

Stigma yang masih mendarah daging dalam sekelompok individu yang memegang erat pola pemikiran ini, harus kita hilangkan sehingga adanya keterbukaan sudut pandang terhadap makna sesungguhnya mengenai kesetaraan gender maupun emansipasi wanita untuk berperan dalam banyak hal.

Sejumlah sosialisasi terus dilaksanakan, buku-buku inspiratif terus dipublikasikan, namun semuanya menjadi hal yang percuma jika kita tidak mengaktualisasikan dan meyakini akan setiap hak yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk bisa berperan dalam perubahan khususnya terhadap aspek pendidikan.

Ditambah lagi dengan kehadiran srikandi-srikandi kita yang menduduki jabatan kementerian seperti Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan RI. Pada peringatan Hari Kartini 21 April 2019 kemarin, Ibu Sri Mulyani bersama pegawai perempuan yang bekerja dalam ruang lingkup Kementerian Keuangan mengadakan ruang dialogis terkait problema dan hal-hal menyangkut peran dan perjalanan karier mereka khususnya mengenai tantangan dalam menyeimbangkan peran sebagai seorang ibu dan istri.

Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa pembelajaran terhadap kita semua bahwa peranan perempuan untuk bisa berpendidikan tinggi menjadi salah satu bekal dalam membangun karier dan keluarga secara seimbang. Tak dapat dielakkan bahwa perempuan yang memiliki pengalaman dan kapasitas pendidikan yang baik merupakan potensi suportif untuk membangun manajemen keluarga dan dapat mendidik anak-anaknya menjadi insan yang cerdas dan bermoral.

Sebagai laki-laki, kita berperan pula untuk menciptakan dan mendorong persamaan kesempatan dan hak untuk kemajuan perempuan. Sehingga, ada kolaborasi terkait usaha kita untuk bisa menghapus stigma-stigma yang masih berkembang di lingkungan masyarakat. Ibu Sri Mulyani berkata, “Kesetaraan gender bukan masalah menang atau kalah. Saya dapat, kamu kehilangan. Tapi ini masalah kebersamaan.”

Dengan adanya keseimbangan antar laki-laki dan perempuan dalam menempuh pendidikan atau kesetaraan terhadap hak lainnya, perempuan dan laki-laki memiliki kekuatan untuk bisa bergandengan tangan agar dapat menjadi sosok ibu dan ayah di masa depan yang memberi arah ke pintu gerbang akan lahirnya penerus bangsa yang terus berprestasi dan berkarya.

Tidak dapat dipungkiri, setiap anak belajar dari perpustakaan pertama di dunia setelah mereka dilahirkan yaitu dari seorang ibu mulai dari proses pengenalan cara membaca dan menulis. Ibu memiliki peranan yang besar dalam memberikan stimulasi minat literasi terhadap anak dengan inisiatif dan niat yang kuat dalam proses mendidik sehingga dibutuhkan kesadaran untuk setiap ibu memiliki landasan fundamental dalam mengembangkan kemampuan literasi anak sejak dini.

Jika saja ada banyak ibu dengan tingkat pendidikan tinggi, maka tentunya akan muncul posibilitas yang besar untuk bisa melahirkan bibit-bibit unggul yang dapat melanjutkan jejak pendidikan seperti sang ibu dan ini adalah suatu pergerakan yang positif buat masa depan generasi bangsa.

Ditambah lagi dengan hasil dari penelitian Ben Hamel, seorang peneliti asal Belanda, mengatakan bahwa tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu. Ini menunjukkan bahwa seorang ibu yang cerdas berpeluang melahirkan seorang anak yang dapat mengikuti kecerdasan ibunya.

Seorang ibu menjadi awal pertemuan bagi sang anak dalam mengenal dunia, cinta, suara, kata-kata, nada, dan unsur lainnya yang saling berkolaborasi untuk pemenuhan aspek edukasi dan rekreasi terhadap anak. Pendidikan tinggi bagi seorang perempuan sangat jelas memberikan lebih banyak kontribusi positif terhadap ragam aspek kehidupan.

Lalu, mengapa stigma itu masih tumbuh dan membudaya di beberapa kalangan masyarakat saat ini? Jangan sampai semua hal itu hanya menjadi pembatas atau dinding terhadap perempuan. Mari menjadi agen perubahan dalam diri masing-masing untuk bisa mengubah segala pola pikir dan stigma terhadap perempuan berpendidikan tinggi dan menjadi inidividu yang suportif dalam memandang kesamaan hak bagi laki-laki dan perempuan dalam menempuh pendidikan tinggi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini