Pameran Lukisan Unismuh Proses Pencarian Jati Diri Awal Hingga Akhir Semester

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan

Terkini.id, Makassar-Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa FKIP Universitas Muhammadiyah mengadakan pameran lukisan yang diberi tema ‘Blue Screen” di Mall Nipah. Sabtu 18 Januari 2020.

Pameran seni rupa ini menjadi momentum yang senantisa memberikan pesan dan penghayatan dalam bingkai estetika.

Ketua Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Baithal Muqoddas, S.Pd., M.Sn menuturkan maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah sebuah proses pencarian jati diri mahasiswa seni rupa yang selama ini kuliah dari semester awal hingga semester akhir.

“Mata kuliah ini namanya studi khusus, jadi mereka sudah berada pada wilayah seni apa kita yang terpajang di sini adalah banyak varian, ada ilustrasi, ada lukis kemudian ada seni visual art, ada juga semacam karya-karya seni kriya,” kata Muqqadas.

Lebih jauh Ketua Pendidikan Unismuh, menuturkan kepada terkini.id, Sabtu, 18 Januari 2020, mahasiswa diharapkan ketika mereka mau expose keluar tentu karya-karya itu harus matang, karena ini akan disaksikan oleh masyarakat umum, kita (Unismuh.red) lebih selektif, jangan sembarang memajang karya di luar karena terkesan pencitraan.

“Saya bilang begini karena karya ini akan menjadi opini masyarakat, kok karya gitu dipamerkan di luar, tentu ada melalui tahap seleksi. Mahasiswa ini berkarya kurang lebih 1 tahun, mereka berkarya dengan macam-macam karya bisa 6 sampai 10, kalau memang sudah layak, okelah kita ajukan proposal ke Prodi untuk dipelajari,” terangnya.

Muqaddas menambahkan, kegiatan seperti ini, pameran kemarin di sini sampai ada yang mereka pajang harga Rp5.000.000 tetapi tentu karya-karya itu memang karya-karya yang kita anggap unik ya jangan yang umum.

“Soalnya karya kalian yang berbasis budaya lokal, sekarang kan orang cenderung kepada budaya lokal sehingga kita sarankan kepada mahasiswa/wi yang memilih studi khusus jangan juga hanya sekedar memenuhi kewajiban. Tapi bagaimana kalau itu bisa orang tertarik untuk memiliki dalam arti memiliki nilai komersil, sehingga pengunjung tertarik untuk membeli,” tandasnya di Lantai 5 Mall Nipah.

Sementara itu salah satu mahasiswi, diantara karya blue screen berani memajang karya lukisan manual menggunakan lentik tangan manisnya, Indah namanya. Karya tersebut cukup menyita perhatian pengunjung.

Disela-sela pajangan karyanya, Indah sedikit membocorkan rahasia, bahwa lukisannya ini menceritakan perjalanan hidupnya. Perantau asal Pinrang ini menuturkan, karya lukisannya ini merupakan fase perjalanan hidupnya sendiri.

“Mulai fase down, fase up kemudian mulai merintis dan terkadang saya bertanya pada diri sendiri. Apa sih yang dilakukan di dunia ini, apa sih yang membuat senang tanpa memikirkan mau makan apa besok dan bagaimana besok,” kata Indah penuh motivasi.

Jadi, Indah mencoba mengkombinasikan antara kehidupan dan kesenangan. Bagaimana keduanya bisa berjalan tanpa kekurangan apapun. Misalnya bekerja dilingkungan sendiri, melalui menggambar dan menghasilkan duit untuk bersenang-senang dan bisa membeli tools atau perlengkapan untuk menggambar.

“Awal melukis untuk memberikan remainded kepada orang-orang, karena dasar awal kita bisa lanjut ke fase berikutnya dengan melukis. Mulai dari sket, pemberian warna, memakai kuas, secara manual memakai tangan sendiri,” tambahnya.

Selanjutnya Indah menjelaskan sarana lukisnya menggunakan kanvas, acrylik dan spray paint atau cat pilox.

Kegiatan ini menurut wanita berkacamata ini namanya blue screen, berangkat dari 5 orang, yaitu Indah yang disebut I Look I, Rizal Muhammad, Irham, Sumardi yang karib dipanggil Bimbim dan Maslansyah Ali.

“Saya mengambil lukisan manual, di kampus dinamakan bimbingan sempat menuai tanya dari dosen pembimbing, kenapa harus mengambil lukisan manual dan susah. Akan lebih baik kembali ke dasar namun dikemas sebagai sesuatu yang wah untuk dipamerkan,” tandasnya menirukan dosen pembimbingnya.

Pameran lukis ini merupakan kegiatan Kampus semester akhir untuk menyelesaikan studi, setelah ini baru bisa memogramkan untuk skripsi.

Tatkala ditanya kemiripan lukisan wajah, Indah menuturkan sebagai bentuk ilustrasi atau penggambaran akan sesuatu peristiwa melalui seni lukis, dari tema lukisan kemudian di visualkan sebagai bentuk dirinya.

“Bagaimana dan apa yang saya suka, akan tetapi kembali kepada diri sih,” ungkapnya.

Setiap goresan Indah berbahan acrilyc and spray paint on canvas berukuran 1X1 meter ini mempunyai alur. Sebut saja tahap Raise no sun, Berangkat dari fase terlukai oleh diri sendiri yang tak henti diracuni penglihatan yang tak sesuai
realita.

Lantas Rich Down Titik dimana semua penglihatanmu terselamatkan hingga kau punya ruang kosong yang banyak dan Rise Up, bangkit untuk membenarkan yang salah.

Fight flight Media, merupakan fase dimana kau berhasil tapi ambigu, dimana kau lulus dari persoalan mu tapi kau tak tau jalan dimana kau akan berpijak lalu menetap dan belajar kembali.

Fase berikutnya ghost feeling media Kau punya keresahan yang tak kau ketahui tapi menghatui dan menyakitkan hingga kau lupa dirimu sebenarnya.

Street rules, sebuah perjalanan yang membawanya kembali berjalan di jalan yang tak disangka datang pada saat lelah dalam pencarian. Dia hadir dan mengajari tata cara berjalan menyadarkan aturan dalam berjalan hingga tidak salah jalan. Lalu menampakkan jalanan yang luas dari bayangan dengan bersenang-senang dan bertemu WAN BAN (crew dan teman bermain).

Dan, ILUKI berangkat dari kata i look i (i see me) yang di plesetkan menjadi iluki. Fase ini membuktikan posisi yang tepat dari segala kegagalan dan pertarungan yang terselesaikan. ILUKI this time begin.

Semoga dari pameran ini akan muncul pameran lukisan serupa dan membuatnya lebih epic lagi. “Kedepannya saya bisa pameran lagi, saya ingin berpameran lukisan tunggal,” harap Indah bahagia.

Komentar

Rekomendasi

KPPN Makassar I Apresiasi Kinerja Pelaksanaan Anggaran P3E Sulawesi Maluku

Kapal Latih SMKN 3 Kemaritiman Selayar Kembali Berlabu Normal Di Darmaga Pattumbukang, Kabupaten Selayar

H Ali Yafid Puji Adaptasi Para Kasi di Kementerian Agama Kab. Bulukumba

Dirjen PHU Kemenag RI : Masuk Gedung Ini, Keluar Sudah Punya Nomor Porsi

Kakanwil Kemenag Sulsel Harap Gedung Layanan Haji dan Umrah Wajo Dimanfaatkan Maksimal Layani Umat

Bangga Jadi Yang Pertama di Sulsel, Ini Kata Bupati Wajo Ke Dirjen PHU Kemenag

Heboh, ‘Buaya Berkalung Ban Motor Bekas’ Tak Ketemu, Kini Hadir ‘Roti Buaya Berkalung Ban’ di Palu

Sulawesi Education dan Techno Expo 2020, Stand Pameran UIN Alauddin Ramai Dikunjungi Siswa

Tanamkan Rasa Peduli Pada Siswa, SIT Al-Hikmah Maros Hadirkan Da’i Cilik Palestina

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar