Pandemi yang Membuka Banyak Bobrok

Virus Corona (ilustrasi) / ist
Virus Corona. (Foto: Ist)

“Ayah, enak yah ada virus corona?”, tanya anak saya yang berumur 5 tahun. “Loh, kok enak?”, saya tanya balik. “Enak karena ayah dan ibu di rumah terus”, jawabnya polos.

Setelah percakapan tersebut, saya langsung mengambil kalkulator. Saya tiba-tiba berfikir untuk menghitung jam efektif saya di dalam dan di luar rumah.

Hasilnya; PNS dosen seperti saya punya kewajiban log in (masuk) jam 7.30 pagi dan log out (keluar/pulang) jam 04.00 sore selama 5 hari dalam seminggu. Artinya, ada kewajiban 8 jam kerja dalam sehari atau 40 jam kerja dalam seminggu di kantor, belum termasuk waktu yang dihabiskan di jalanan ketika berangkat ke kantor dan pulang ke rumah.

Hitungan tersebut juga belum termasuk pekerjaan-pekerjaan yang mengharuskan lembur di luar jam kerja. Belum lagi ketika di rumah, waktu juga terkuras oleh kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pekerjaan di kantor, membaca whatsapp group kantor, misalnya. Sehingga jika ditotal, rata-rata saya hanya punya waktu beberapa jam saja di rumah untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak.

Anjuran #dirumahaja di masa pandemi corona ini memang membuat para orang tua punya cukup waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak, bahkan lebih dari cukup dibanding hari-hari biasanya.

Menarik untuk Anda:

Tak perlu saya jelaskan betapa pentingnya pendidikan orang tua di rumah, kita semua sudah tahu bahwa orangtua merupakan guru pertama dan utama.

Ada yang menganggap pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi bahaya lost generation karena para siswa tidak ke sekolah mengikuti pembelajaran formal, namun berdasarkan fakta di atas, masa pandemi ini malah merupakan waktu yang terbaik untuk pendidikan karakter karena mengembalikan para orang tua kepada tugasnya yang paling utama.

Pandemi corona juga membuka bobrok efektifitas kehadiran pegawai di kantor. Memang ada benarnya bahwa produktivitas akan naik jika jam kerja ditambah. Namun fungsi matematis itu tidak bersifat linear, artinya semakin lama kita bekerja output yang kita hasilkan akan semakin banyak. Tentu itu salah besar.

Pikiran dan tenaga manusia juga punya batasan, sehingga memperpanjang durasi jam kerja justru akan meningkatkan faktor kelelahan dan stres yang ujung-ujungnya akan justru mengganggu produktivitas.

Hadir di kantor bukan berarti produktif bekerja. Sebaliknya, tidak hadir di kantor bukan berarti tidak produktif bekerja. Buktinya, setelah beberapa hari tinggal di rumah pada masa pandemi ini, meski tidak hadir di kantor, banyak pekerjaan yang dapat terselesaikan dengan baik, bahkan lebih baik dari biasanya karena dapat dikerjakan fleksibel di rumah dengan santai dan tanpa beban.

Pandemi corona juga membuka bobrok birokrasi kampus yang bertele-tele dan cenderung menyulitkan mahasiswa.

Paradigma “kalau bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah” nampaknya tidak berlaku di masa pandemi ini. Buktinya, saat ini kegiatan perkuliahan dan keadministrasian di kampus juga dapat berjalan dengan baik. Kuliah online, presensi online, dan bimbingan online, semuanya dapat dicover oleh teknologi, bahkan lebih mudah dan mengasyikkan. Meski harus diakui ada hal-hal substansial yang tidak dapat diwakili kecuali dengan pertemuan tatap muka.

Pandemi corona ini mengajarkan kita banyak hal. Semoga kita dapat mengambil hikmah pelajaran yang berharga darinya!

Dr. H. Fuad Fansuri, Lc., M.Th.I (Dosen IAIN Samarinda)

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Harapan Umat ke Biden: Hentikan Muslim Ban dan Muslim Bom!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar