Pelajar Indonesia di Jepang Soroti Middle Income Trap

Pelajar Indonesia di Jepang Soroti Middle Income Trap

K
Kamsah

Penulis

Ia menyarankan agar riset tidak hanya diarahkan untuk publikasi ilmiah, tetapi juga untuk menghasilkan nilai tambah secara ekonomi dan sosial.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyoroti persoalan mentalitas dalam dunia riset di Indonesia.

“Jika mental menjadi peneliti tidak terbentuk, fasilitas riset sehebat apa pun tidak akan dimanfaatkan,” katanya.

Abdul Mu’ti menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap sains sejak usia dini. Menurut dia, sains harus dikenalkan secara kontekstual agar tidak dianggap menakutkan oleh anak-anak.

Sejumlah akademisi dari Indonesia dan diaspora juga hadir dalam simposium ini, antara lain Rektor IPB University Arif Satria, Rektor Universitas Indonesia Heri Hermansyah, dan Rektor Universitas Brawijaya Widodo.

Baca Juga

Dari Jepang, hadir pula Associate Professor The University of Tokyo Muhammad Aziz, Assistant Professor Tokyo University of Agriculture Riskina Juwita, serta akademisi lainnya.

Ketua PPI Jepang, Prima Ghandi, mengatakan bahwa ASSIGN menjadi wadah penting bagi pelajar Indonesia di Jepang untuk menyampaikan ide dan solusi strategis bagi persoalan nasional. Ia menilai kebijakan di Indonesia masih minim berbasis kajian akademik.

“Banyak kebijakan negara yang lahir dari kompromi politik, bukan dari basis ilmiah. Ini yang perlu kita perbaiki,” katanya. (*)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.