Pelakon Ekonomi Kerakyatan di Zaman Social Distancing

Pedagang sayur hingga seorang ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang sopir angkutan kota (angkot) yang tidak paham social distancing.(ismi hehamahua)

DI TENGAH kebijakan Pemerintah terkait dengan COVID-19 sehingga diberlakukan era  Social Distancing hingga WFH (Work From Home) , namun  hal ini masih belum menjadi suatu momok yang dikhawatirkan oleh sebagian para saudara kita yang kebanyakan  melakoni usaha ekonomi kerakyatan.

Mau tidak mau atau suka tidak suka, tentunya mereka sebahagian pasti  tetap  berusaha berada di luar rumah serta tetap menjalankan beraktivitas secara biasa dalam kesehariannya.

Karena ini menyangkut urusan perut demi pemenuhan kebutuhan dalam keluarga.

Menarik untuk Anda:

Era sekarang terkait pembatasan sosial (Social Distancing) adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular.

Bertujuan untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi, sehingga dapat meminimalkan penularan penyakit, morbiditas, dan terutama kematian.

Dan dalam beberapa hari terakhir, istilah Social Distancing atau menjaga jarak sosial kerap menjadi pembicaraan baik di pemberitaan media atau dalam bentuk konten di media-media sosial sebagai bentuk salah satu langkah untuk melawan COVID-19 yang sekarang ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia dan seluruh Dunia

Dilansir dari  Laman Wikipedia, Coronavirus 2 sindrom pernapasan akut ( SARS-CoV-2),  sebelumnya dikenal dengan nama sementara, 2019 novel coronavirus ( 2019-nCoV ), Penyakit ini menular pada manusia dan merupakan penyebab pandemi penyakit coronavirus yang sedang berlangsung pada tahun 2019 (COVID-19) yang telah ditetapkan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat dari Kepedulian Internasional oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Social distancing dapat dilakukan dalam beberapa bentuk mulai dari tindakan sederhana seperti membatasi kontak tatap muka dan tangan, menghindari keramaian, tidak menggunakan transportasi umum, mengurangi perjalanan yang tidak perlu dan melakukan pekerjaan secara daring (online).

Semua itu jika dirangkum maka akan membuat masyarakat untuk tinggal di rumah untuk melakukan pekerjaan dan aktivitas mereka.

Dalam bentuk skala yang lebih besar dan luas yang terimplementasi karena kebijakan pemerintah, terdapat cara social distancing seperti meliburkan sekolah, penutupan tempat kerja, usaha, layanan lain seperti restoran dan pusat perbelanjaan.

Aktivitas seperti bekerja, belajar dan beribadah tetap dilakukan bedanya hanyalah semua itu dilakukan di rumah untuk menghindari kontak langsung dengan orang asing yang tidak ketahui status kesehatannya.

Satu sisi penerapan kebijakan Social Distancing dan  WFH tentunya masih menjadi perhatian di kalangan masyarakat yang menghabiskan waktunya sebahagian dalam mencari nafkah di luar rumah setiap harinya.

Masih banyak hal hal yang perlu perhatian lebih dalam akan  makna  Social Distancing ini kepada Masyarakat umum.

Hingga kebijakan Work From Home masih sebatas pemahaman yang agak sulit diterapkan buat sebahagian para mereka yang melakoninya.

Bagaimana tidak, Social Distancing dengan Paradoks keadaan masyarakat umum terutama para pencari nafkah dengan penghasilan harian.

Mereka adalah penggiat ekonomi  kerakyatan yang kebanyakan dilakoni masyarakat kita.

Seperti yang sempat ditemui pagi kemarin, saat berbincang dengan  seorang penjaja tahu tempe, ada juga pedagang sayur hingga seorang ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang sopir angkutan kota (angkot).

“Pak, tabe tauki tentang  Social Distancing,” ujarku pada seorang pedagang tahu tempe.

Rupanya lelaki paruh baya ini tersenyum ,sambil menggelengkan kepala.

“Kalau himbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah,”ujar penulis lagi.

“Wah, itu agak susah pak jika kami jalani,” jawabnya.

‘Kalau bekerja yang penghasilannya diterima tetap tiap bulan pasti enak mas , karena  biar tidak masuk dan bekerja didalam rumah toh pastinya tetap dapat penghasilan setiap bulan,” jelas seorang lelaki pedagang tempe dan krupuk ini.

Usianya telah paruh baya.

“Sementara kami ,kalau tidak bekerja sehari saja, keluarga kami mau makan opo,” pintanya lagi.

“Wong, pastinya kami harus tetap berjualan seperti biasa walau yang namanya Korona atau Kopid  , mau diapa lagi , sudah keadaan toh ,” ungkapnya lagi.

Sementara itu dikesempatan yang sama.

Seorang ibu rumah tangga juga ikut berujar.

“Kalo tidak keluarki bapakna cari penumpang, apayya kodong mau dipake belanja dan makan sehari-hari,”ucap ibu ini.

Senada hal tersebut, terkait info Covid-19 yang ada di Indonesia sekarang ini menjadi suatu tantangan bagi para saudara kita yang tetap bekerja di lapangan dan mencari nafkah buat keluarga tercinta.

Hal tersebut juga menjadi perhatian oleh salah satu Sosiolog Human Capital, Syamsuddin Simmau di Makassar Sulawesi Selatan. Terkait sebaran Virus Covid-19 yang telah ada di  beberapa kota Indonesia.

“Keadaan  sekarang ini kita perlu tetap waspada dan tetap mengikuti protap yang dikeluarkan Pemerintah melalui Kemenkes, serta pihak terkait lainnya” ucapnya.

“Tetapi aktivitas  para penggiat ekonomi kerakyatan, Haruslah tetap bijak dan mengutamakan beberapa aspek selama aktifitasnya sehari-hari,”jelasnya lagi.

Contoh kecil dalam etika sosial , baik itu melakukan kontak fisik seperti berjabat tangan, dll. 

Ataukah ketika berada dalam suatu yang karena keadaan menuntut beraktifitas di keramaian, seyogyanya mereka tetap mengutamakan faktor kesehatan dan keamanan bagi dirinya dan orang sekitarnya,”ungkapnya.

“Hal ini agar menjadi perhatian khusus bagi saudara  kita dalam menjalankan  roda aktivitas  perekonomian selama berada di luar,” harapnya.

Ditempat yang sama Ust. Muh Chandra, mengingatkan agar tetap memperbanyak Zikir dan Ibadah  dalam mengingat Allah SWT.

Terngiang sepenggal lirik dengan judul Untuk Kita Renungkan oleh Ebiet G Ade.

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya.

Kita mesti tabah menjalani.

Hanya cambuk kecil agar kita sadar

Adalah Dia di atas segalanya.

Adalah Dia di atas segalanya.

Semoga Covid-19 ini cepat berlalu di Indonesia serta seluruh Dunia.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Jelang Debat Kandidat, Calon Bupati Nicodemus Pilih Cicipi Makanan Ringan Bersama Tim

Satgas Mulai Siapkan Logistik dan SDM Untuk Vaksinasi COVID-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar