Libido Berkuasa

KITA pasti berfikir, ketika membaca judul di atas, berkaitan dengan politik. Tidak salah, namun bukan hanya dalam tataran politik.

Hampir semua institusi, baik di pemerintahan, swasta, dunia usaha, bahkan dalam rumpun organisasi terkecil, yaitu rumah tangga, nafsu berkuasa itu selalu ada. Jadi, bukan besar kecilnya lingkup kekuasaan itu.
Ada yang mengatakan bahwa ambisi berkuasa itu salah satu sifat mahluk hidup yang bernyawa. Manusia dan hewan.

Agar lebih memudahkan memahami tulisan ini kita kemukakan pengertian libido. Libido adalah istilah yang penggunaannya secara umum berarti gairah seksual.

Dalam definisi yang bersifat lebih teknis berdasarkan yang dikemukakan oleh Carl Gustav Jung, libido mempunyai pengertian, energi psikis yang dimiliki individu yang digunakan untuk perkembangan pribadi atau individuasi.

Sigmund Freud mendefinisikan libido sebagai energi atau daya insting yang terkandung dalam identifikasi yang berada dalam komponen ketidaksadaran dari psikologi.

Ia menunjukkan bahwa dorongan libidinal ini dapat bertentangan dengan perilaku yang beradab.

Kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat dan pengendalian libido menyebabkan ketegangan dan gangguan dalam diri individu, mendorong untuk digunakannya pertahanan ego untuk menyalurkan energi psikis dari kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebanyakan tidak disadari ke dalam bentuk lain.
Penggunaan berlebihan dari pertahanan ego menyebabkan neurosis.

Tujuan utama dari analisis psikologis adalah untuk membawa dorongan identifikasi ke dalam kesadaran, yang memungkinkan untuk ditemukan secara langsung sehingga mengurangi ketergantungan pada pertahanan ego.
Berangkat dari pengertian di atas dapatlah dibedakan dengan yang namanya ambisi.

Ambisi dan obsesi, banyak orang salah kaprah mengartikan dua kata ini. Definisi ambisi menurut The Webster’s Dictionary adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan.

Sementara definisi obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas.

Karenanya, ambisi dan libido dua hal yang menyatu dalam setiap diri, yang membedakannya pada saat itu direalisasikan.

Menariknya Kekuasaaan

Siapapun pun pasti tahu bahwa kekuasaan itu selalu bersandar pada kewenangan, otoritas, fasilitas, penghormatan dan menggerakkan sekelompok orang dan seterusnya.
Kekuasaan identik dengan wilayah di mana kepemimpinan itu mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama mengelolanya. Sehingga, kekuasaan itu bisa berjalan dan kepatuhan rakyat akan kekuasaan itu mutlak adanya.

Lalu apa yang membuat dia menarik? Untuk menjawab ini tentu tidak sederhana, tetapi tulisan ini mendekatkan pada praktek sederhana yang sering kita lihat.

Pertama, adanya komitmen, kapabilitas dan upaya untuk berbuat lebih banyak dari apa yang sudah dia kerjakan sebelumnya. Hampir semua orang yang si tanya sebelum dia berkuasa, mengapa mereka ingin maju berkompetisi untuk suatu kedudukan dalam pemerintahan misalnya, atau jabatan publik lainnya, maka hampir bisa dipastikan jawabannya ingin berbuat lebih banyak untuk daetahnua atau masyarakat.

Mungkin ini klise, tetapi itulah gambaran berfikir mereka untuk masuk dalam kekuasaan. Oleh karena institusi yang paling luas untuk berbuat secara legal ada pada jabatan jabatan publik.

Kedua, pengaruh dan popularitas. Hanya dengan media, kekuasaan orang memiliki pengaruh.

Sangat sedikit fakta yang bisa kita lihat orang yang tidak punya kekuasaan berpengaruh di tengah tengah masyarakat, kecuali mereka yang masuk kategori penceramah (Da’i) atau mereka yang punya kapital besar.

Namun, dalam pemerintahan atau jabatan publik, betapapun kecilnya ruang lingkup kekuasaan yang dimilikinya, niscaya pengaruh itu menyertai.

Ketiga. Fasilitas dan status sosial. Dua hal yang saling terkait. Dengan segala bentuk protokoler yang melekat pada kekuasaan dengan sendirinya mengangkat statis sosial seorang pemimpin.

Keempat, yang lazim kita lihat, kekuasaan dan kepemimpinan selalu diasumsikan benar atau dicarikan pembenaran pada setiap ucapan yang dilontarkan pemimpin.

Kelima, jaringan yang makin luas, kuatnya relasi turut melatarinya. Keenam, punya kesempatan merubah tatanan nilai yang ada pada institusi serta membentuk norma baharu.

Ragam yang melingkupi minat sesorang untuk berkompetisi dalam kekuasàan tersebut bila di menej dengan baik, tentu menjadi hal positif, rakyat mendapati kekuasan itu telah memberi makna dan ruang baru untuk bisa berkembang lebih dibanding kondisi sebelumnya.

Sebab itu, kekuasaan yang intinya ada pada kepemimpinan, maka sudah barang tentu kecerdasan, keterampilan dan moralitas merupakan fondasi dan keniscayaan. Sebaliknya, jikalau kepemimpinan hanya diorientasikan pada kekuasaan belaka dengan segala “keempukan” mengobatinya, itu adalah malapetaka bagi masa depan daerah dan juga masyarakatnya.

Pesan Moral

Siapapun punya hak untuk maju dalam sebuah kontestasi menduduki kursi kekuasaan, tidak hanya bagi segelintir elite partai atau yang punya modal fulus sahaja, juga bagi mereka yang punya kemampuan lain diluar itu. Terlebih pada seseorang yang memiliki kecerdasan akademik, kecerdasan fungsional, kecerdasan sosial. Yang paling penting dia punya nilai ketokohan di tengah tengah masyarakat. Tokoh yang dimaksudkan adalah, pertama, dia punya pengikut dan mampu membaca keinginan dan kebutuhan rakyat, kedua, modal sosialnya sudah cukup lama dan punyai nilai tinggi, ketiga, komunikasi yang dibangunnya dengan banyak pihak berkesinambungan.

Ada tiga faktor yang perlu dicermati oleh partai politik dan kandidat untuk merengkuh kekuasaan, pertama, partai politik atau gabungan partai pengsung, juga calon punya keyakinan menang, kedua, didukung oleh infrastruktur organisasi hingga ke akar rumput (grassroot) sehingga mesin partai bergerak secara dinamis dan terstruktur, ketiga, jabatan visi, misi, program, kebijakan dan tujuan mampu diterjemahkan secara sistematis agar dipahami konstituennya.

Selain itu, seorang calon pemimpin seyogyanya, pertama, niatnya di luruskan sejak awal, bahwa kekuasaan itu bukan media memperkaya diri atau dan kelompoknya, kedua, ikhlas bekerja sepanjang periode kekuasaannya, ketiga, etika berkuasa itu senantiasa ada pada jalur yang benar, keempat, adab berkuasa itu senantiasa dikedepankan dalam berbagai aspek yang ditunjukkan melalui pembawaan diri, kelima, menghindari kolusi yang berujung pada korupsi disemua kemungkinan terbukanya cela penyalahgunaan kekuasaan, keenam, mendengarkan selalu apa kata masyarakat, baik itu yang terucapkan maupun bahasa isyarat yang ditunjukkannya oleh karena adanya sekat yang membatasi mereka menarasikan orasinya, ketujuh, menumbuhkan kepekaan, sensitivitas dari gesture yang diperlihatkan oleh orang orang disekelilingnya, sebab boleh jadi itu pertanda atas sesuatu masalah yang harus segera di tangani.
Wallahu ‘alam bisshawab.

Makassar, 2019

M Ridha Rasyid adalah Praktisi dan Pemerhati Pemerintahan

Berita Terkait
Komentar
Terkini