Merawat Amal

MENJELANG akhir Ramadan, setiap umat Islam telah memiliki investasi akhirat berupa pahala atas amal-amalnya sepanjang Ramadan ini. Tentunya bentuk amal setiap orang berbeda-beda, demikian juga kualitas dan kuantitasnya.

Bayangkan, sejak awal Ramadan telah terbuka warung bertirai sebagai penanda adanya sekelompok orang tidak berpuasa. Demikian juga, masjid-masjid di akhir Ramadan makin sunyi berbanding terbalik dengan mall yang kian padat.

Sementara para ahli ibadah atau abid, justru semakin giat beribadah di penghujung Ramadan hingga secara kuantitas meningkat seperti shalat lail, misalnya di Masjid Raya Makassar, setiap malam di penghujung Ramadan, terutama malam ganjil ke-27 jamaah salat Lail kian melimpah, bahkan tumpah ruah untuk menyempurnakan amaliah ramadannya.

Baca Juga: Masjid Yang Dirindukan

Demikian juga kualitasnya, semakin intens berzikir dan beri’tikaf, berdiam diri di masjid.

Serangkaian amaliah Ramadan tertunaikan, maka persoalan terberat berikutnya justru bagaimana merawat amal tersebut. Sejatinya pahala ibadah Ramadan dirawat, dijaga, agar tidak berkurang apalagi hilang.

Baca Juga: Wabah dan Doa

Pertanyaannya, apakah amalan yang telah diganjar pahala berlipat itu, bakal berkurang atau hilang. Tentunya amalan akan berkurang bahkan hilang pahalanya manakala yang sang hamba tidak ikhlas beribadah.

Selama seseorang mengungkit atau menyebut kebaikannya lalu mengesankan diri ahli ibadah, paling banyak pahalanya karena sangat rajin beribadah.

Khawatirnya justru saat mereka menyombongkan diri itulah, justru pahalanya menjadi hilang karena menjadi sombong dengan kebaikan-kebaikannya. Nauzubillah !

Baca Juga: Wabah dan Doa

Karenanya, pahala dari berpuasa, berzakat, bersilaturahim, bersedekah, dan bertadarus al-Qur’an serta serangkaian amaliah Ramadan, niscaya dilipatgandakan pahalanya itu senantiasa dijaga, ikhlas semata meraih ridha Allah Swt dan terhindar dari upaya menyombongkan diri.

Maka cara untuk menghindari kemungkinan tersebut, harus menghindari kemungkinan bertemunya orang yang bakal memuji kebaikan-kebaikannya.

Kadang faktor keadaan sehingga seseorang terlibat dalam kerumuman pembicaraan yang berpeluang bakal mendapatkan pujian atas kebaikan-kebaikannya sehingga tergoda dengan pujian, lalu timbul perasaan bahwasanya dirinya pantas mendapatkan predikat tersebut. Terbius pujian sebagai orang yang dermawan, ahli ibadah dan pujian lainnya.

Salah satu karakter manusia, senang ketika dipuji dan benci kala dimaki, sehingga saat dipuji berpeluang turut bangga. Sebaliknya jika kebaikannya tidak disebut-sebut atau kurang diapresiasi justru dirinya yang menggiring situasi dan arah pembicaraan untuk memuji dirinya.

Maka kewajiban setiap orang agar senantiasa menjaga nilai pahalanya agar terhindar dari pujian yang membuatnya angkuh sekaligus penyebab pahala ibadahnya berkurang atau hilang.

Selain itu, di akhir Ramadan ini sejatinya setiap muslim berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk meraih derajat taqwa sehingga amaliah ramadannya kian sempurna dan memohon petunjuk Allah SWT, agar selalu dibukakan pintu keikhlasan dalam beramal dan kelak menjadi investasi akhirat yang dinikmatinya kala menjadi penghuni surga. Amin

Baca berikutnya
Ziarah Nabi
Bagikan