Keshalehan 4.0

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Anak bagaikan pohon rambat, jika dibiarkan tumbuh sekehendak hatinya, maka ia tumbuh ke segala arah, tanpa tujuan.

Nantinya tidak elok dipandang dan hanya mengganggu. Tapi jika diarahkan dan dibentuk, maka akan tumbuh sesuai dengan yang kita arahkan, cantik tertata dan enak dipandang.

Demikian halnya dalam membentuk keshalehan anak di era 4.0.

Rangkailah anak kita dengan jiwa dan seni, kasih sayang dan kelembutan, ibarat tanaman rambat, jika dirawat dengan kelembutan hati kelak menjadi indah.

Begitulah kutipan Hermawan Kartajaya yang mengulas model citizen 4.0 yang relevan dengan proses pembentukan pribadi. Sekalipun manusia lahir dengan segenap kesempuarnaan fisik, memiliki akal pikiran dan perasaan, tapi tidak semua sukses, banyak yang gagal. Jauh dari nilai-nilai keshalehan.

Menarik untuk Anda:

Dalam bulan Ramadan ini, bulan pembentukan karakter, menjadi pribadi yang sabar dan peduli pada orang orang lain melalui zakat dan sedekah. Zaman telah berubah, bagaimana proses membentuk pribadi yang shaleh di era 4.0

Kuncinya butuh kemampuan adaptif, menyesuaikan diri dengan tuntutan kondisi yang serba teknologi. Belajar mengaji sekarang cukup praktis, belajar agama melalui youtube tersedia setiap saat. Era penuh kemudahan sekaligus tantangan.

Dalam ilustrasi pohon rambat tadi jadi pemantik membangun kesadaran bahwa sekalipun zaman berkembang, tapi pola pembentukan keshalehan anak tergantung pada cara orang tuanya mendidik sang anak.

Proses pembentukan itu sejak kecil sebelum berinteraksi dunia luar yang berpotensi memberi pengaruh padanya.

Keshalehan 4.0 dapat dibentuk, diwarnai, dan diarahkan ke arah kehidupan lebih inklusif dengan kepekaan sosial.

Dunia sekarang menyempit hingga dosa dan pahala sulit dibedakan kecuali orang-orang yang memiliki iman dan ilmu. Sekarang orang tidak lagi bicara anda orang apa dan apa latar belakang keluarga, tapi apa sumbangannya kepada orang lain sebagai citizen of the world.

Cara berpikir orang sekarang serba cepat, praktis. Lihat perilaku kaum remaja terpelajar, mereka bisa mengakses apa saja setiap saat tanpa harus keluar rumah. Orang tua tidak mampu memantau apalagi mengendalikannya.

Itulah tantangannya, cara berpikir dan mentalitas mereka berbeda jauh dengan cara pandang orang tuanya. Maka alternatifnya, orang tua harus mengikuti perkembangan zaman, cerdas dan adaptif dengan dunia yang bakal membentuk kesahalehan anaknya.

Beruntung perubahan dunia diikuti kemampuan tokoh agama lebih adaptif. Simak saja, ceramah ustad Dasad Latief, Ustas Abdul Shomad. Mereka mubaliq sadar medsos, pesan ceramah yang diminati.

Pengalaman sang ustas itu mencerminkan semangat anak-anak muda yang akrab disapa kaum millenial belajar agama melalui youtube. Pelajaran-pelajaran agama diakses melalui jejaring sosial, searching di google tentang tema tertentu, maka tersaji sejumlah pembahasan terkait tema yang diinginkan.

Masyarakat juga makin adaptif, menyumbang cukup dengan transfer, penggalangan dana cukup membuat grup dan share jumlah sumbangan terkumpul berikut visualisasi distribusinya pada yang berhak. Pola ini menggambarkan wajah kesahalehan era 4.0

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Pesawat Jatuh, Banjir, Gempa, dan Keteladanan Ali Jaber

Opini Publik: Waspasai Kekerasan Seksual pada Anak selama Pandemi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar