Pemerintah Inggris Tolak Vaksin Covid-19 Valvena, Alasannya Mengejutkan!

Terkini.id, London – Pemerintah Inggris tolak vaksin Covid-19 Valvena, alasannya mengejutkan! Pemerintah Inggris membatalkan kontraknya untuk sekitar 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang sebagian dikembangkan produsen vaksin Valvena Prancis.

Pasalnya, vaksin itu sendiri tidak akan disetujui penggunaannya di negara itu.

Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid, Selasa 14 September 2021, saat menanggapi pertanyaan anggota dewan Skotlandia.

Baca Juga: 10 Ribu Penyuntikan Vaksin Covid-19 bagi Siswa, Danny Pomanto: Percepat...

Menurutnya, ada alasan komersial pihanya telah membatalkan kontrak.

“Namun, apa yang dapat disampaikan (kepada produsen), jelas bagi kami vaksin yang dimaksud yang dikembangkan perusahaan itu (Valvena), tidak akan mengantongi restu MHRA di Inggris,” ungkap Javid.

Baca Juga: Pelajar di Gowa Ngamuk dan Ajak Duel Temannya saat Hendak...

Alhasil, pembatalan kontrak itu membuat saham Valvena terjun bebas 35 persen pada Senin 13 September 2021.

Seperti dilaporkan Reuters via Antara, Rabu 15 September 2021, saham Valvena tersebut jatuh pasca pemerintah Inggris menghentikan kontrak pasokan vaksin Covid-19 yang ditaksir bisa mencapai nilai 1,4 miliar Euro.

Calon vaksin Covid-19 Valvena VLA 2001 mengandung virus inaktif, yang sama dengan vaksin flu, dan dianggap sejumlah pihak berpotensi menggaet orang-orang yang berhati-hati dengan beberapa vaksin yang menggunakan teknologi mRNA baru.

Baca Juga: Keren, Warga Makassar Dapat Diskon PBB 30 Persen Jika Sudah...

Pihak perusahaan pada Senin, mengatakan pemerintah Inggris menuding mereka telah melanggar kewajiban berdasarkan kontrak pasokan, tudingan yang dibantah keras Valvena.

Vaksin tersebut diproduksi di Livingston di Skotlandia dengan menggunakan material tambahan buatan perusahaan Dynavax AS. Fasilitas itu mempunyai kapasitas produksi sekitar 200 juta dosis pada 2022.

Valvena mengatakan, pemerintah Inggris memiliki opsi yang dapat menambah jumlah pesanan menjadi 190 juta dosis pada 2025.

Menurut Javid, Pemerintah Inggris dan Skotlandia akan bekerja sama untuk melihat apa yang dapat mereka lakukan untuk menjamin masa depan fasilitas itu.

Bagikan