Pendiri Telegram Ungkap Alasan Whatsapp Rawan Kebobolan Data

Terkini.id, Jakarta – Rentannya keamanan whatsapp dibobol oleh peretas, terus menjadi perbincangan serius di berbagai media sosial.

Pendiri aplikasi chatting Telegram, Pavel Durov pun angkat bicara soal kerentanan keamanan WhatsApp.

Pacel mengungkapkan, dirinya sudah pernah menginggatkan risiko kebobolan data tersebut kepada WhatsApp.

Berdasarkan laporan Financial Times, fitur telepon WhatsApp masih bisa disusupi oleh spyware asal Israel.
Spyware tersebut adalah buatan perusahaan Israel bernama NSO Group. Spyware ini bisa menginvasi telepon WhatsApp pada versi Android dan iOS, seperti dikutip dari 9to5Mac, Selasa 14 Mei 2019.

Spyware ini tidak cuma bisa menyusupi lewat telepon, tetapi juga melalui panggilan telepon yang tak dijawab oleh pengguna.

Dalam sejumlah kasus panggilan yang tak terjawab ini bisa hilang dalam dari daftar panggilan sehingga pengguna tidak menyadari adanya telepon tersebut.

Pavel Durov mengungkapkan hal ini dalam postingan di blog Telegram berjudul “Mengapa WhatsApp Tidak akan Pernah Aman”.

“WhatsApp memiliki sejarah yang konsisten – dari nol enkripsi pada awal hingga suksesi masalah keamanan yang anehnya cocok untuk keperluan pengawasan,” tulis Durov seperti dikutip dari AFP, Kamis 16 Mei 2019.

“Setiap kali WhatsApp harus memperbaiki kerentanan kritis dalam aplikasi mereka, yang baru selalu muncul,” kata Pavel Durov.

Pavel Durov menyarankan FBI agar memaksa WhatsApp atau Facebook untuk membuat “pintu belakang” atau cara rahasia untuk menerobos ke sistem keamanan dalam pemrograman mereka.

“Agar WhatsApp menjadi layanan yang berorientasi privasi, Ini harus berisiko kehilangan seluruh pasar dan bentrok dengan pihak berwenang di negara asal mereka,” tulisnya.

Telegram didirikan oleh Pavel Durov dan Nikolai Durov, yang sebelumnya menciptakan situs jejaring sosial populer Rusia, VKontakte.

Telegram sendiri saat ini memiliki 200 juta pengguna, 7% di antaranya di Rusia, menurut angka terbaru yang diumumkan pada 2018.

Pada Maret tahun ini, Telegram mengatakan mereka telah memperoleh 3 juta pengguna dalam 24 jam karena Facebook, Instagram, dan WhatsApp mengalami kesulitan.

Pada 2018, otoritas Rusia memerintahkan penyedia layanan internet domestik untuk memblokir Telegram setelah menolak memberi mereka akses ke pesan pengguna.

Tetapi langkah untuk menutup Telegram di Rusia itu gagal dan aplikasi itu masih berfungsi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini