Pengakuan Warga Makassar: Sulitnya Mendapatkan Pertolongan di Tengah Pandemi Corona

Corona
Pasien virus corona. (Foto: Ist)

Terkini.id, Makassar – Pengakuan A (25 tahun), warga yang berlokasi di Jalan Maccini menunjukkan lemahnya pelayanan kesehatan saat pandemi Covid-19 atau Virus Corona di Kota Makassar. Di tengah pandemi Corona, pemerintah dinilai setengah hati mewujudkan pelayanan kesehatan, yang notabene menjadi hak asasi warga negara.

 

Cerita bermula saat Ayu, kakak ipar A, menyaksikan A terjatuh di depan pintu rumah. Saat hendak masuk. Ayu melihat A mengalami kejang-kejang dengan dada sesak. Bola matanya bergerak ke atas. Kemudian tak sadarkan diri beberapa saat.

Sebelumnya, kata Ayu, A pernah ke Puskesmas karena demam tinggi. Juga mengalami sakit tenggorokan. Selain itu, Ayu menyebut A tak bisa mengeluarkan suara saat itu. Namun setelah diberi obat antibiotik A langsung sembuh.

“Dia pingsan lalu kami telpon Home Care. Tidak ada angkat. Kita coba hubungi Dinas Kesehatan 112 dia bilang menuju ke situ, 1 jam menunggu tidak ada yang datang,” ujar Ayu dengan raut wajah gelisah, Selasa 24 Maret 2020.

Baca juga:

Ayu pun berinisiatif menghubungi Rumah Sakit Pelamonia. Namun naas, dia lantas diminta ke Rumah Sakit Awal Bros. Petugas Rumah Sakit Pelamonia yang berbicara dengan Ayu beralasan, tidak memiliki ambulance dan penjaga.

“Siapa tahu ada ambulansnya (Rumah Sakit Awal Bros) karena di sini nggak ada, dan tak ada yang jaga,” kata Ayu mengulang jawaban petugas Rumah Sakit Pelamonia.

Saat menghubungi petugas Rumah Sakit Awal Bros, Ayu juga disarankan ke Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo. 

“Dia bilang kalau pelayanan Covid-19 langsung ki ke Wahidin,” ujarnya.

Setelah menelpon pihak Wahidin, Ayu kembali mendapat jawaban yang mengecewakan. Ayu menuturkan alasan petugas Rumah Sakit Wahidin menolak lantaran tak memiliki akses layanan antar jemput pasien.

“Kami tak memiliki layanan antar jemput. Kalau bisa bawa pakai Grab,” ungkap Ayu mengulang jawaban petugas Rumah Sakit Wahidin.

Waktu menunjukkan pukul 11:30 Wita, Ayu kian bingung lantaran kaka iparnya, setelah sadarkan diri meminta untuk tak disentuh. Ayu mengatakan, kaka iparnya takut bila terpapar virus Corona atau Covid-19.

“Sehari-hari (A) sosialisasi sama teman. Cash on Delivery (COD) HP, biasa di Karebosi Link (pusat perbelanjaan). Jadi kita tak berani juga sentuh,” ungkapnya.

 

Ayu menuturkan, sebelumnya, A tak memiliki riwayat sakit. Sebab itu, Ayu semakin panik karena tak mendapat jalan keluar dari pihak pemerintah dan rumah sakit.

Ayu lantas menghubungi kembali Dinas Kesehatan Kota Makassar. Hanya saja, bukannya mendapat solusi, Ayu kembali kecewa lantaran mendapati dirinya telah dibohongi setelah menunggu hampir dua jam.

“Dia bilang tidak ada angkat dari pihak Home Care padahal tadi dia bilang sudah jalan,” sesalnya.

Ayu kemudian memutuskan mendatangi Rumah Sakit Faisal. Akhirnya ia berhasil mendapatkan ambulance di Rumah Sakit Faisal.

Sulitnyamendapatkan pelayanan kesehatan di tengah pandemi Covid-19 di Kota Makassar, menurut Ayu, jauh lebih menakutkan dari virus itu sendiri.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Naisyah Tun Azikin mengakui bila pusat pelayanan 112 tak mampu melayani seluruh keluhan masyarakat. Alasannya, kurangnya sumber daya manusia yang bisa menangani jumlah pasien.

“SDM kami terbatas, dan kami hanya buka hingga pukul 12 malam,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengatakan masih mempertimbangkan untuk menangani solusi call center ini. Dia masih mempertimbangkan untuk penambahan saluran.

“Apakah akan memperbanyak call center, yang jelas akan ditinjau apakah akan ada penambahan atau tidak,” katanya.

Komentar

Rekomendasi

Soal Dugaan Malpraktek Oknum Dokter, Pihak RSUD Bantaeng Lakukan Investigasi

Viral Ksatria Baja Hitam Belanja di Pasar, Tukang Sayur Heboh

Ternyata ini Lokasi Pertarungan Sesungguhnya Menghadapi Pandemi Covid-19

Pemerintah Batalkan Pemberangkatan Haji 2020, Ini Reaksi PBNU

Anggota KKB Papua Pelaku Pembunuhan Berencana Terancam Hukuman Mati

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar