Terkini, Makassar — Di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah, kinerja industri pertambangan global ikut merasakan tekanan. Namun demikian, PT Vale Indonesia memastikan bahwa laju investasinya tetap berada di jalur yang direncanakan.
Hal ini disampaikan Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, saat berbuka puasa bersama wartawan pada 2 Maret 2026 di Makassar.
Menurut Endra, konflik di Timur Tengah memang berpotensi memberikan dampak terhadap operasional, khususnya terkait rantai pasok bahan baku. Salah satu yang menjadi perhatian adalah suplai sulfur yang digunakan dalam proses pengolahan smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Vale di Sorowako.
“Sulfur kita sebagian disuplai dari kawasan Timur Tengah. Harga mungkin tidak naik signifikan, tetapi biaya logistik bisa terdampak. Ini tentu akan berpengaruh pada biaya produksi,” jelasnya.
Meski begitu, perusahaan telah menyiapkan langkah antisipatif. Efisiensi operasional dan inovasi produksi menjadi strategi utama untuk menekan dampak jangka panjang dari gejolak global tersebut.
- Buka Pelatihan Konseling Menyusui, Bupati Jeneponto Tegaskan Jangan Hanya Seremonial, Tapi Beri Manfaat Nyata
- Sukacita Panen di Desa Lise, Potret Sinergi Pemkab Sidrap dan Petani Kawal Swasembada Pangan
- Wali Kota Makassar Gandeng Sinar Jaya Bahas Bus Kota Terintegrasi Jalur Kampus
- Tersangka Bibit Nenas Sulsel Kembalikan Uang Rp3 Miliar ke Negara
- Deretan Top Scorer dan Best Player Warnai AAS Cup II 2026
“Kami akan meminimalkan dampak melalui efisiensi dan inovasi. Secara umum, investasi PT Vale tidak terdampak signifikan,” tegas Endra.
Tiga Proyek Strategis Tetap Melaju
Di tengah tantangan global, PT Vale saat ini tengah menggarap tiga proyek besar yang menjadi tulang punggung ekspansi perusahaan, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonit.
Proyek IGP Pomalaa yang berlokasi di Pomalaa mencatat progres konstruksi lebih dari 65 persen dari total investasi sekitar US$4,5 miliar. Penjualan perdana bijih nikel pada akhir Februari 2026 menjadi sinyal bahwa proyek ini mulai memasuki fase operasional yang lebih matang.
Dengan kapasitas stockpile mencapai 4 juta wet metric ton (Mwmt) dan target produksi awal sebesar 300.000 ton limonit per bulan, Pomalaa diproyeksikan menjadi simpul penting dalam rantai pasok nikel nasional.
Sementara itu, proyek Morowali di Morowali dengan nilai investasi US$2 miliar hampir rampung dengan progres mencapai 99 persen. Bahkan, proyek ini telah mencatatkan penjualan awal sebesar 2,2 juta ton ore pada awal 2026.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
