Terkini.id, Makassar – Saya tidak pernah membayangkan jika kumpulan puisi yang ditulis oleh Herma Ismail ini, seperti judulnya, juga berbahasa Inggris. Saya mengira, meskipun judulnya berbahasa Inggris, keseluruhan puisi dalam buku ini berbahasa Indonesia.
Saya kemudian tidak berani berekspektasi apa-apa terkait apa yang Herma tuliskan, selain berusaha menikmati buku tersebut apa adanya.
Benar saja, buku dengan 104 halaman ini bisa saya nikmati – dan saya selesaikan – sambil duduk di lobi sebuah hotel. Tulisannya ringan, singkat, dan enak dibaca. Sepintas, saya mengingat Rupi Kaur dan Lala Bohang dari bagaimana Herma menampilkan tulisannya secara visual.
Setiap halaman hanya berisi satu tulisan singkat namun cantik dengan ilustrasi sederhana namun manis yang dikerjakan oleh Nadila Ajeng.
Buku ini terdiri dari tiga bagian yang saling terjalin satu sama lain: “Beyond Flesh and Bone”, “The Nature Says”, dan “The Wishes”. Bagian-bagian tersebut melukiskan apa yang Herma pilih sebagai judul buku, A Diary of Untold Stories (Buku Harian tentang Cerita-Cerita yang Tak Diungkapkan).
Sekumpulan perasaan yang mungkin tidak diucap secara verbal, namun diungkap dalam bentuk lain. Pemilihan kata diary (buku harian) merupakan pilihan yang tepat sebab apa-apa yang ditulis di buku harian adalah apa-apa yang tidak ingin kita ungkapkan ke dunia.
Kita menyimpan rahasia, perasaan-perasaan yang terpendam, dan cerita-cerita yang disembunyikan, di dalam buku harian.
Puisi pertama dalam buku ini, Favourite Soul, kurang lebih menggambarkan apa yang saya maksud:
I never tell you, I love you:
simplicity, sincerity,
soul connection, genuine acts, deep talks.
I love:
All of them.
I found they are you
Pada puisi di atas, kita bisa lihat bagaimana terkadang, pernyataan sederhana seperti I love you susah untuk diungkapkan. Namun meski tidak diucapkan secara verbal kepada seseorang, bukan berarti kita tidak mencintai orang tersebut.
Sebagai orang yang lahir dan besar di daerah Sulawesi Selatan, saya mengaminkan setiap larik yang Herma tulis. Secara umum, orang Bugis-Makassar, memang tidak dibesarkan untuk menjadi orang yang ekspresif secara emosional.
Orang tua saya hampir tidak pernah mengucapkan kata-kata di atas, begitu pun sebaliknya. Namun, bukan berarti mereka tidak mencintai saya atau saya tidak mencintai mereka. Memang benar, bahwa cinta punya banyak bentuk, bukan hanya sekadar kata-kata.
Beyond Flesh and Bone, bagian pertama buku ini, menurut saya, adalah inti (kalau bukan perwujudan) dari buku puisi ini sendiri. Flesh (daging) dan bone (tulang) adalah tubuh fisik kita sebagai manusia.
Sementara itu, manusia bukan hanya terdiri dari unsur fisik, tetapi juga tersusun dari sesuatu yang beyond (di luar) unsur fisik tersebut. Perasaan-perasaan, keadaan spiritual, jiwa, akal, bahkan lingkungan “di luar” diri kita adalah apa-apa yang bisa kita artikan sebagai sesuatu yang beyond flesh and bone tersebut.
Dalam bagian pertama buku tersebut, unsur emosilah yang paling banyak ditekankan sebagai sesuatu selain tubuh fisik tersebut. Bahwa manusia bukanlah manusia jika hanya terdiri dari onggokan daging dan tulang. Manusia adalah manusia jika ia tersusun dari unsur fisik, emosi, akal, dan unsur-unsur lain.
The Nature Says, seperti judulnya, terdiri dari puisi-puisi yang bercerita tentang lingkungan “di luar” manusia itu sendiri. Diksi-diksi yang dipilih seperti pantai, gunung, langit, air, laut, bunga matahari, dan cuaca kerap kita temukan dalam bagian ini. Meski bercerita tentang keadaan alam yang, sekali lagi, berada “di luar” tubuh manusia, Herma menjadikan alam sebagai metafora dari manusia beserta seluruh dimensinya.
Pada puisi We are Water (Kita adalah Air), Herma menggambarkan sifat-sifat manusia yang “cair” dan mengalir; bebas namun tetap bertanggung jawab terhadap pilihan dan jalan yang telah mereka pilih: menjadi rahmat, atau bencana bagi orang lain.
Saya melihat bagian ketiga, The Wishes, sebagai harapan-harapan pribadi penyair (atau harapan-harapan orang lain kepada penyair?) yang ditulis dalam bentuk puisi. Kata-kata seperti impian, kemungkinan, dan keinginan akan lazim kita temukan.
Puisi Grey and Old (Menua), adalah impian dari hampir setiap orang: menua bersama seseorang yang kita sayang. Atau puisi What She Wants (Apa yang Ia inginkan) menunjukkan bagaimana dicintai dan menolak dikasihani adalah keinginan bagi setiap perempuan (she)
Pada akhirnya, dengan tidak berekspektasi apa-apa, A Diary of Untold Stories membuat malam saya cukup menyenangkan. Ilustrasinya manis, tulisannya ringan, diksinya sederhana dan mengalir apa adanya. Tanpa terasa, tidak sampai sejam, buku tersebut sudah selesai saya tamatkan.
Ulasan Batara Al Isra (Penulis buku Di Seberang Gelombang)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
