Masuk

Pinangki Belum Dieksekusi, Denny Siregar Ingatkan Jaksa: Jangan Harap Sapu Kotor Bisa Bersihkan Halaman

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Terpidana kasus suap dan gratifikasi pengurusan fatwa Mahkamah Agung, Jaksa Pinangki Sirna Malasari, terus menjadi sorotan karena belum juga dieksekusi.

Jaksa Pinangki Sirna sebelumnya mendapat keringanan setelah masa hukumnya disunat Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta dari 10 tahun penjara menjadi 4 tahun penjara, kemudian jaksa tidak mengajukan kasasi. 

Kini, ternyata jaksa Pinangki itu belum dieksekusi ke penjara dan masih menghuni sel di Kejaksaan Agung (Kejagung).

Baca Juga: Heboh, Pernyataan Jokowi Seputar Pemimpin Rambut Putih, Denny Siregar: Bukan Ganjar, Bapak Rambutnya Hitam

Awalnya, temuan di atas dibeberkan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) akhir minggu lalu.

“Kami mengecam dan menyayangkan atas Pinangki belum dieksekusi ke Lapas Wanita Pondok Bambu atau lapas wanita lainnya. Ini jelas tidak adil dan diskriminasi atas napi-napi wanita lainnya,” terang koordinator MAKI, Boyamin Saiman.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan publik. Ada apa dengan Kejagung dan Pinangki? Boyamin Saiman menyebut bahwa perlakuan spesial penahanan Pinangki itu adalah bentuk disparitas penegakan hukum yang dilakukan Jaksa Agung ST Burhanuddin dan anak buahnya.

Baca Juga: Jika Ganjar Pranowo Jadi Presiden, Denny Siregar Janji Berhenti Ngomong Politik

“Meminta JPU segera eksekusi Pinangki ke Lapas Wanita Pondok Bambu atau Lapas Wanita lainnya,” ucap Boyamin.

Menanggapi hal itu, Kajari Jakpus Riono Budi Santoso menjelaskan dengan enteng alasan Pinangki belum dieksekusi. Alasannya, jaksa punya banyak pekerjaan dan masalah teknis.

“Hanya masalah teknis dan administratif di Kejari Jakarta Pusat saja. Kami sebelumnya memang harus memastikan apakah terdakwa mengajukan kasasi atau tidak,” ujar Riono saat dimintai konfirmasi, Sabtu 31 Juli 2021.

“Pas akhir-akhir ini kebetulan kami juga sedang banyak pekerjaan. Sedangkan tenaga harus dijaga karena pandemi belum jelas kapan berakhir,” sambung Riono.

Baca Juga: Denny Siregar Nilai Koalisi Nasdem, Demokrat, PKS Kekurangan Uang

Mendapat jawaban tersebut, MAKI tidak terima. Terkesan kejaksaan menyepelekan kasus Pinangki yang telah membuat babak belur muka hukum Indonesia.

“Nah jadi alasan, istilahnya itu banyak kerjaan, ya memang tugasnya Kejaksaan memang bekerja dan termasuk melakukan eksekusi. Jadi ini alasan yang tidak logis dan alasan yang sekadar dicari-cari alasan saja kalau banyak kerjaan sampai tahun depan juga masih banyak pekerjaan dan tidak akan ada eksekusi,” kata Boyamin.

Boyamin menerangkan perkara terhadap Pinangki sejatinya telah dinyatakan inkrah pada 6 Juli lalu. Jika dihitung, kata Boyamin, sudah 3 pekan lebih Pinangki tak kunjung dieksekusi ke lapas oleh pihak Kejaksaan.

“Berdasarkan berita di detikcom itu kan telah inkrah tanggal 6 Juli 2021, sehingga kalau dihitung sampai hari ini, atau kemarin lah hari Sabtu, itu sudah 3 minggu lebih bahkan hampir mendekati 4 minggu. Jadi kalau mestinya itu di minggu pertama tanggal 7 sampai tanggal sekitar tanggal 12 itu mestinya ya sudah dilakukan eksekusi minggu pertama itu,” tutur Boyamin.

Masalah Pinangki ikut mendapat sorotan dari penggiat media sosial, Denny Siregar. Denny mengingatkan Kejaksaan yang dirasa sulit memberi kepercayaan kepada masyarakat.

“Halo @KejaksaanRI bagaimana kami bisa percaya kalian bersih, kalau masalah Pinangki aja kalian sulit memberi kepercayaan ada kami?

Jangan harap sapu kotor bisa membersihkan halaman rumah,” tulis Denny Siregar.