Prabowo-Sandi Unggul Hasil Quick Count di Sulsel, Ini Pandangan Pengamat Politik

Pengamat komunikasi politik UIN Alauddin Makassar Firdaus Muhammad.

Terkini.id — Pasangan calon presiden dan wakil presiden no 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi) unggul sementara dari pasangan calon no 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Berdasarkan pantauan dari situs Tirto.ID Prabowo-Sandi unggul dari tiga lembaga survei yang merilis hasil perhitungan cepat atau quick count khusus daerah Sulsel, Pukul 21.20 WITA, Rabu 17 April 2019.

Saiful Mujani
01. Jokowi-Ma’ruf : 41.69 persen
02. Prabowo-Sandi : 58.31 persen
Data Masuk : 96.35 persen

Indikator Politik Indonesia
01. Jokowi-Ma’ruf : 43.74 persen
02. Prabowo-Sandi : 56.26 persen
Data Masuk : 89.8 persen

Charta Politika
01. Jokowi-Ma’ruf : 38.35 persen
02. Prabowo-Sandi : 61.65 persen
Data Masuk : 95.31 persen

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Firdaus Muhammad menanggapi, bahwa hasil perhitungan cepat sesungguhnya bukanlah hasil dari Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sebab hasil resmi berdasarkan hasil perhitungan manual yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (Pemilu).

Quick count hanyalah sampel yang diambil dari beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan metode stratified dan systematic random sampling.

Terlepas dari itu, menurut Firdaus, faktor Prabowo-Sandi unggul di Sulsel berdasarkan quick count, dikarenakan faktor figurnya yang diterima oleh masyarakat.

“Apalagi, Sandiaga Uno pernah mengumumkan bahwa ia memiliki keturunan bugis,” kata Firdaus Muhammad melalui sambungan telepon.

Ia menambahkan, Sandiaga Uno sering melakukan roadshow di kampung Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.

“Sandiaga Uno sudah tujuh kali melakukan roadshow di Sulsel, hampir semua kabupaten/kota sudah dikunjunginya, bahkan dia sempat beberapa kali bermalam di daerah-daerah, sehingga faktor ini juga mengangkat suara Prabowo-Sandi di Sulsel,” umbarnya.

Sementara itu, Jokowi-Ma’ruf kalah dari hasil hitung cepat, dikarenakan partai pengusung tidak bekerja secara masif mensosialisasikan Jokowi-Ma’ruf.

Partai-partai pengusung terkesan lebih mementingkan diri sendiri untuk merebut suara di Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung serentak dengan Pilpres.

Bahkan, sejumlah tokoh yang mendukung Jokowi-Ma’ruf, seperti Jusuf Kalla (Wakil Presiden), Nurdin Abdullah (Gubernur Sulsel), Moh Ramdhan Pomanto (Walikota Makassar) dan sejumlah tokoh Sulsel, dinilai tidak mampu menaikkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf.

“Pak Jusuf Kalla tidak fokus menangkan Jokowi-Ma’ruf. Hanya beberapa kali berkunjung ke Sulsel dan melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh. Kalau saya menyebutnya itu pertemuan elit, tidak turun ke daerah-daerah”

“Sementara Pak Nurdin Abdullah, itu tidak fokus karena dia juga harus jalankan tugas sebagai gubernur. Selain itu Nurdin Abdullah tidak memiliki partai untuk menggerakan mesin partai mensosialisasikan Jokowi-Ma’ruf,” ujarnya.

Tidak hanya itu, selama kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla, belum ada infrastruktur yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Sulsel.

“Memang ada beberapa infrastruktur yang dibangun di Sulsel, seperti kereta api, tapi itu belum jadi. Begitu juga kincir angin di Sidrap, itu juga belum secara langsung dirasakan oleh masyarakat Sulsel,” pungkasnya.

Berita Terkait