Unggahan itu juga merinci modus yang diduga digunakan oleh pelaku, termasuk menggenggam tangan korban dengan erat, meraba bagian tubuh sensitif, hingga mengancam dengan penurunan nilai akademik jika korban tidak menuruti keinginan pelaku.
“Tangannya digenggam erat, bagian sensitifnya diraba. Korban diancam jika tidak memenuhi keinginan dosen tersebut, mereka akan diberikan nilai E,” demikian isi unggahan yang memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa.
Kasus ini ternyata bukan peristiwa baru di lingkungan kampus tersebut. Menurut pengakuan sejumlah pihak, kasus pelecehan seksual ini sudah lama menjadi “rahasia umum.” Namun, sanksi yang lemah dari pihak kampus dan lambatnya respons birokrasi telah menghalangi upaya untuk mengungkap kasus-kasus semacam ini.
Kemarahan dan Desakan Sanksi Tegas
Tagar #SavePTE-PTIK menjadi simbol perlawanan mahasiswa terhadap maraknya kekerasan seksual di kampus. Banyak pihak yang mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan mereka atas apa yang dianggap sebagai kegagalan institusi pendidikan dalam melindungi mahasiswa dari pelecehan seksual.
- PT Vale Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di NTT
- Kalla Institute Berdayakan UMKM Perempuan di Maros Melalui Program PMP Kemdiktisaintek 2026
- Hadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah, Dirut PT PAL Ajak Ormas Islam Bangun Kekuatan Industri Nasional
- Musim Kemarau, Wali Kota Makassar Ingatkan Warga Waspadai Kebakaran
- Sekolah Islam Terpadu Al Fatih Makassar Luncurkan SPMB 2027/2028, Perkuat Komitmen Cetak Generasi Berkarakter Qur'ani
Mereka mendesak agar pelaku diberikan sanksi tegas dan lingkungan kampus kembali menjadi tempat yang aman untuk belajar.
“Kami sangat marah, karena kampus sudah tidak aman. Pelaku sebelumnya tidak diberikan sanksi tegas,” tulis akun @mekdiunm dalam unggahannya. Mereka juga menyoroti bagaimana kampus seolah “menutup mata” terhadap berbagai kasus serupa yang terjadi sebelumnya.
Kemarahan ini juga diperparah dengan dugaan bahwa tidak ada tindakan tegas dari birokrasi kampus. Beberapa mahasiswa merasa bahwa pelecehan seksual yang berulang di kampus mereka disebabkan oleh lemahnya penanganan yang diberikan oleh pihak universitas.
“Kami akan mengawal kasus ini dan tidak akan berhenti sampai selesai,” tegas mereka dalam salah satu unggahan.
Konteks yang Lebih Luas
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
