Puncak Musim Kemarau di Agustus, Ini Imbauan BMKG untuk Hadapi Kekeringan

cuaca bulan Ramadhan
Musim kemarau. (foto/cnnindonesia.com)

Terkini.id, Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini diperkirakan terjadi pada bulan Agustus.

Dampaknya akan terjadi kekeringan di beberapa wilayah.

“Prediksi puncak musim kemarau adalah bulan Agustus dan dampaknya berupa kekeringan itu bisa sampai September untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa,” kata Dwikorita seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 15 Juli 2019.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Dwikorita mengatakan, perkiraan musim kemarau bisa saja terjadi hingga Desember. Kemarau bisa bergeser ke arah utara Indonesia.

“Jadi tidak serempak. Cuma yang paling luas itu di bulan Agustus-September, paling luas puncak musim kemaraunya itu di bulan Agustus, mulai Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua bagian selatan. Itu yang paling luas di bulan Agustus puncak musim kemaraunya. Dampaknya, kekeringan itu masih berjalan sampai September untuk wilayah selatan itu,” kata dia seperti dilansir dari detikcom.

“Kemudian, di bulan Oktober daerah selatan ini sudah mulai makin basah, ke arah musim hujan. Keringnya berjalan nyebrang khatulistiwa, jadi ke arah utara. Itu sampai Desember itu masih ada kekeringan di Kalimantan Utara, masih ada. Jadi tidak seragam,” imbuhnya.

Untuk itu, kata Dwikorita memandang perlunya antisipasi menghadapi kekeringan, apalagi perkiraan kekeringan ini bisa terjadi di beberapa wilayah.

“Jadi kan perlu ada antisipasi. Karena nanti ketersediaan air akan mengalami defisit terutama di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, sampai Papua itu akan defisit air juga, kering. Selain itu, potensi terjadinya karhutla. Masih potensi ya. Yang kami sampaikan itu sesuatu yang belum terjadi. Meskipun sudah mulai ada yang terjadi. Jadi masih ada potensi karhutla juga masih cukup luas puncaknya, sekarang saja masih ada potensi. Sekarang sudah ada potensi juga, sudah ada yang terbakar misal Aceh, Riau,” katanya.

Untuk kebakaran hutan sendiri, Dwikorita mengungkapkan jumlah titik api berpotensi meningkat. Prediksi tersebut didasarkan pada atmosfer.

“Justru kenapa masih potensi kita sampaikan, mumpung belum terjadi, maka tadi Pak Presiden memberikan instruksi bahwa TNI harus melakukan apa, KLHK apa, jadi kan ada task force itu. Kemudian daerah mana saja titik-titik ancamannya. Itu mumpung semuanya belum terjadi, baik yang potensi terbakar, biar bisa dicegah atau yang kekeringan,” kata dia lagi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini