Rasa Jijik itu Penting, Bisa Pengaruhi Kehidupan Manusia

Terkini.id – Apa yang terlintas dalam benak ketika melihat atau mendengar kata “jijik”? Tentunya akan ada semacam sesuatu yang tiba-tiba membayang begitu saja di kepala, bukan? 

Seorang doktor di bidang antropologi yang juga pakar kebersihan bernama Valerie Curtis mengaku bahwa ia terpesona oleh tinja dan juga tertarik dengan hal-hal menjijikan lain, semisal muntah, nanah, urin, belatung, daging busuk, dll.

Namun, jangan jijik dulu dengan sosok satu ini karena yang ia pikirkan ketika mengungkap pengakuan itu tentu bukanlah substansi busuknya, melainkan bagaimana manusia memberikan respons terhadap hal yang kerap dianggap menjijikkan tersebut.

Baca Juga: PCR Jadi Syarat Wajib Naik Pesawat, Siapa yang Diuntungkan?

Ya, Curtis adalah bagian dari grup peneliti yang meneliti bagaimana mengetahui adanya perubahan atau reaksi mendadak dalam segala sesuatu.

“Orang jijik dengan sesuatu tanpa menyadarinya. Itu memengaruhi hidup kita dalam begitu banyak cara yang halus dan sangat penting bahwa kita memahami betapa luar biasanya pengaruh itu,” ujarnya.

Baca Juga: Seorang Ilmuan Temukan Fakta Mengejutkan, Sebelum Manusia Meninggal Dunia Akan...

Menurut Curtis, rasa jijik sebenarnya mengatur kita, menunjukkan gaya hidup kita sebagai manusia lantaran sadar atau tak sadar, rasa jijik itu mendikte apa yang kita makan, pakai, beli dan bahkan memengaruhi bagaimana kita memilih atau siapa yang kita inginkan untuk bergaul/berinteraksi, dll.

Untuk itu, Curtis ingin mengubah kelaziman tersebut dengan menegaskan pentingnya ilmu tentang rasa jijik dalam segala hal, mulai dari seks dan masyarakat hingga kelangsungan hidup manusia.

Dalam sains sendiri, rasa jijik itu jarang dipelajari sehingga dijuluki sebagai “psikiatri emosi yang terlupakan”.

Baca Juga: Seorang Ilmuan Temukan Fakta Mengejutkan, Sebelum Manusia Meninggal Dunia Akan...

Mengapa? Karena kebanyakan ilmuan lebih tertarik mejadikan jenis emosi lain, seperti rasa takut, cinta, dan amarah sebagai pusat perhatian mereka ketimbang rasa jijik ini. 

“Selama 30 tahun saya mempelajari tentang rasa jijik. Saya menemukan bahwa orang-orang ternyata cenderung jijik terhadap hal yang sama, yaitu kotoran manusia, makanan basi, cairan seksual—yang tentu saja dengan beberapa pengecualian tak ingin kita bagikan ke orang lain—, sikap buruk serta perilaku amoral,” kata Curtis lagi.

Dalam bukunya yang berjudul Don’t Look, Don’t Touch, ia menjelaskan bahwa reaksi terhadap aksi cabul dan rasa jijik terhadap kotoran anjing sekilas adalah hal yang berbeda.

Namun, sebenarnya ada kemiripan dalam hal yang disebutnya “parasite avoidance theory” (PAT).

Teori ini menyoroti rasa jijik dari pandangan evolusioner bahwa nenek moyang manusia bisa bertahan dengan bantuan naluri rasa jijik atau muak, seperti menghindari penyakit, cacat, dan kematian.

Rasa jijik jika dibandingkan dengan rasa takut, menurut Curtis, membuat manusia secara alamiah menghindari sesuatu yang mungkin akan memangsanya.

“Ini juga dilakukan terhadap penyakit. Penyakit adalah sesuatu yang memakan kita dari dalam. Oleh karena itu, rasa jijik sebenarnya menjaga manusia jauh dari sumber penyakit,” lanjutnya.

Selain itu, rasa jijik juga menentukan sikap perilaku sosial manusia.

“Ada kalanya saat berinteraksi dengan manusia lain, kita melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri. Namun, di saat yang sama, kita juga sangat berhati-hati untuk tidak membuat mereka jijik,” jelasnya.

Rasa jijik itulah yang kemudian menjaga sikap dan membangun moralitas manusia.

“Itulah emosi yang mengajarkan kita cara berperilaku dan membantu membangun kerangka moral dalam masyarakat.”

Ia pun menambahkan, “Jijik adalah sebuah organ, seperti mata dan telinga. Ia punya kegunaan dan eksis untuk sebuah alasan. Seperti kaki yang membuatmu bergerak dari A ke B, rasa jijik pun mengatakan kepadamu tentang hal-hal apa yang aman untuk disentuh dan mana yang seharusnya tidak boleh disentuh. Jijik menjadi menarik karena itu adalah sebuah model emosi dan rasa jijik memberitahu kita banyak hal tentang bagaimana segala emosi bekerja.“

Bagikan