Terkini.id- Jakarta. Resesi seks terjadi di beberapa negara Asia. Hal ini ditandai dengan menurunnya angka pernikahan, begitupun dengan angka kelahiran.
Resesi sering dimaknai dengan kemerosotan. Sedang resesi seks dimaknai dengan rendahnya kemauan warga untuk menikah, sehingga angka kelahiran di suatu negara pun ikut menurun dalam kurun waktu tertentu. Umumnya, kondisi ini terjadi di negara-negara maju.
Ada banyak hal yang menjadi pemicu dari resesi seks. Pandemi Covid-19 diduga menjadi salah satu penyebabnya.
Fenomena ini melanda beberapa negara di Asia.
Salah satunya Jepang. Beberapa waktu lalu Kementerian Jepang menyatakan jumlah kelahiran di Negara Sakura tahun 2021 anjlok. Banyak pasangan yang memilih untuk menunda memiliki anak di tengah pandemi ini.
- Singapura Buka Peluang Kerja Sama dengan Pemkot Makassar
- Youth City Changers: Kolaborasi Pemuda Indonesia-Singapura di Rakernas APEKSI XVI Makassar
- Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani Singgung Pidato Politik Prabowo
- Terima Menteri dari Singapura, Gubernur Andi Sudirman Paparkan Kekayaan Alam Sulsel
- Kota Makassar Tawarkan Proyek Japparate ke Singapura
Dilansir dari Reuters, data yang tercatat di Kemenkes Jepang turun hingga 2,8 persen. Angka ini menunjukkan jumal terendah sejak 1899 awal dari pencatatan.
Selanjutnya, ada negara tetangga yaitu Singapura. Angka pernikahan di negara ini turun drastis di angka terendah selama 34 tahun terakhir. Begitupun dengan angka kelahiran, juga tergelincir ke level terendah.
“Pembatasan pertemuan besar sejak tahun lalu menyebabkan pasangan untuk menunda pernikahan,” ungkap Divisi Kependudukan dan Bakat Negara Singapura yang dilansir dari CNBC Indonesia
Kemerosotan ini tidak hanya terjadi pada angka pernikahan saja. Keputusan untuk menjadi orang tua juga menurun.
Badan kependudukan Singapura mengatakan bahwa survei yang dilakukan pada sekitar 4.000 orang menyatakan bahwa mereka menunda pernikahan dan juga menunda untuk memiliki anak.
Berdeda dengan dua negara sebelumnya, Cina pun mengalami resesi seks. Tapi hal ini tidak disebabkan oleh pandemi Covid-19. Melainkan memang keputusan warga sendiri.
Awalnya memang negara padat penduduk ini membatasi setiap keluarga hanya boleh memiliki satu anak. Namun, aturan ini kemudian diperbaharui melihat jumlah kelahiran tak kunjung bertambah. Sejak Mei 2021 lalu, pemerintah Cina telah membolehkan setiap keluarga memiliki tiga anak.
Meski aturan jumlah anak telah diubah, tapi tidak membuat angka kelahiran meningkat. Hal ini disebabkan oleh pandangan warga Cina bahwa biaya untuk membesarkan anak itu mahal. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menghindari kehamilan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
