Singgung Arief Poyuono Sebut Hanya Orang Jawa yang Bisa Jadi Presiden, Pengamat: Persis Hitler

Singgung Arief Poyuono Sebut Hanya Orang Jawa yang Bisa Jadi Presiden, Pengamat: Persis Hitler

R
Ratna
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga mengomentari pernyataan Eks Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono yang menyebut bahwa hanya orang Jawa yang bisa jadi presiden.

Adapun pernyataan Arief Poyuono tersebut terkait sulitnya Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menjadi Presiden lantaran bukan berasal dari suku Jawa

Menanggapi hal tersebut, Jamiluddin Ritonga mengatakan bahwa alasan pernyataan tersebut sebab orang Jawa tak akan memilih pemimpin di luar suku mereka telah mengarah ke etnosentrisme.

Jamiluddin menilai, cara berpikir Arief sangat tertinggal dan kurang berwawasan. Pasalnya, Indonesia merupakan bangsa yang multi etnik, sehingga tidak tepat berpikir pemimpin hanya boleh dari suku Jawa saja.  

“Sikap etnosentrime tersebut tentu membahayakan perkembangan demokrasi di Indonesia. Sebab, sikap etnosentrisme itu pada umumnya berkembang di negara totaliter,” kata Jamiluddin mengingatkan, dikutip dari Berita Politik RMOL, Selasa 7 Desember 2021. 

Baca Juga

Lebih lanjut, mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini menerangkan, sikap dan pemikiran Arief itu hampir sama dipraktikan oleh Adolf Hitler saat memimpin Jerman. 

Dikatakan Jamiludin, Hitler melalui NAZI terus menerus mengagungkan rakyat Jerman sebagai bagian dari Ras Arya. 

“NAZI menilai Ras Arya ras paling unggul, karena itu paling berhak memimpin dunia. Ras lain hanya pecundang, karenanya sah untuk dipimpin dan dikuasai,” ujar Jamiluddin. 

Atas dasar itu, lanjut Jamiludin, pemikiran Arief selain berbahaya juga tidak cocok di negara demokrasi seperti Indonesia. Jika terus dibiarkan, maka hal itu tidak memberi ruang bagi suku lain untuk memimpin.

“Indonesia yang dihuni multi etnis, tentu sikap etnosentrisme dapat mengganggu NKRI. Suku lain akan merasa tertutup untuk menjadi presiden. Hal itu dapat membuat frustasi suku lain,” katanya. 

Selain itu, Jamiludin menilai Arief Poyuono terlalu mengenalisir orang Jawa. Semua orang Jawa seolah sudah pasti akan memilih sukunya sendiri.

Menurut Jamiludin, generalisasi seperti itu tentu sangat menyesatkan. Sebab, kalau pola pikir itu yang digunakan, maka semua orang Jawa seolah tipe pemilih emosional.

“Padahal, realitas politiknya banyak orang Jawa yang termasuk pemilih rasional. Pemilih seperti ini memilih Capres buka karena satu suku atau satu agama, tapi lebih karena dinilainya paling layak dibandingkan capres lainnya,” imbuhnya. 

Pada umumnya, kata Jamiludin, semakin terdidik pemilih akan semakin rasional dalam memilih Capres. 

Di mana kecenderungan tersebut yang terus terjadi di Indonesia, dimana pemilih terbesar saat ini adalah kalangan muda. Mereka pada umumnya telah terdidik.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.