Soroti Persoalan, Ade Armando: Dalam Islam, Tidak Ada Aturan Ketat Soal Siapa yang Bisa Dianggap Ulama

Terkini.id, Jakarta – Pakar Ilmu Komunikasi, Ade Armando menyoroti persoalan soal siapa yang bisa dianggap sebagai ulama.

Pasalnya, Ada Armando menyoroti bahwa di dalam Islam pun, tidak ada aturan ketat soal siapa yang bisa dianggap sebagai ulama.

Ia menyampaikan hal ini dalam video berjudul “Kita Tak Boleh Terlalu Percaya Pada Ulama” yang tayang di Cokro TV pada Sabtu, 27 November 2021.

Baca Juga: Polemik Pemindahan IKN, Pengamat Sebut Jokowi Sudah Bosan?

Sesuai judulnya, di awal video, Ade Armando mengatakan bahwa kita tak bisa lagi terlalu percaya kepada ulama.

Pasalnya, berbagai peristiwa yang terjadi telah menunjukkan bahwa banyak ulama yang bermasalah.

Baca Juga: Sentil Rizal Ramli Dkk Soal Pemindahan Ibu Kota, Ade Armando:...

“Baru saja diketahui tiga ulama terlibat dalam gerakan terorisme,” kata Ade Armando.

Ia melanjutkan, ada pula ulama seperti Rizieq Shihab yang terlibat dalam kasus chat mesum/

“Ada Bahar bin Smith yang baru saja keluar dari penjara, langsung meneriakkan sumpah serapah,” katanya.

Baca Juga: Sentil Rizal Ramli Dkk Soal Pemindahan Ibu Kota, Ade Armando:...

Dosen Universitas Indonesia ini mengatakan, masih banyak lagi contoh lain yang menunjukkan bahwa banyak ulama bermasalah.

Padahal, lanjutnya, ulama telah dianggap sebagai sumber kebenaran selama ini. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa hanya ulama yang berhak bicara soal agama.

Berangkat dari situ, Ade Amando pun mempertanyakan soal siapa yang sebenarnya dapat disebut ulama.

Jika disebut bahwa ulama adalah orang yang punya pengetahuan mendalam soal agama, tidak ada ukuran pasti bahwa orang itu benar berpengetahuan mendalam.

“Dari mana kita tahu bahwa seseorang berpengathuan mendalam? Di situ muncul persoalan,” kata Ade Armando.

“Di dalam Islam, tidak ada aturan ketat soal siapa yang bisa dianggap ulama,” sambungnya.

Ade Armando mengatakan bahwa di satu sisi, ada orang yang sebenarnya tidak menjalani pendidikan ilmu agama secara mendalam, namun dianggap sebagai ulama.

Hal itu karena orang tersebut berhasil membangun image sebagai ulama, contohnya adalah Rizieq Shihab.

Di sisi lain, ada orang yang sudah menempuh pendidikan agama sangat tinggi, tapi kemudian tidak dianggap sebagai ulama yang patut didengar.

“Karena pemikirannya berbeda dengan arus utama. Misalnya, almarhum Nucholis Madjid dan Quraish Shihab,” katanya.

Bagikan