Sosok Hakim Eman Sulaeman, Ketidakadilan Adanya di Keranjang Sampah

Sosok Hakim Eman Sulaeman, Ketidakadilan Adanya di Keranjang Sampah

S
R
Syarief
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini, Jeneponto – Hakim tunggal yang membebaskan Pegi Setiawan, Eman Sulaeman akhir-akhir ini menjadi sorotan perbincangan netizen yang dianggap tealah

Menegakkan keadilan bagi masyarakat kecil di Indonesia.

Eman Sulaemani yang lahir di Karawang pada 10 April 1975, dirinya merupakan lulusan S1 Ilmu Hukum Universitas Pasundan pada 1999 dan dikenal berprestasi saat masih sekolah.

Dalam karirnya, Eman Sulaeman sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di bawah naungan Mahkamah Agung (MA) selama 24 tahun.

Dalam video yang beredar di media sosial, Eman Sulaeman mengungkapkan sosoknya yang berasal dari kampung Karawang dan keluarga biasa, dirinya merupakan putra pertama di kampungnya yang meraih titel S1.

Baca Juga

“Keluarga saya semuanya SD, baru saya yang kuliah, waktu itu dikampung yang kuliah S1 cuman saya, waktu tahun 1995, makanya waktu itu kalau saya gagal kan jadi contoh buruk, jadi harus berhasil,” kata Eman Sulaeman dalam video yang terpantau Terkini, Sabtu, 13 Juli 2024.

Eman Sulaeman mengungkapkan, dalam keluarganya tidak yang berlatar belakang sebagai penegak hukum.

“Jangankan begrond hukum, tamatannya SD, tidak ada juga yang PNS, dikampung petani, pedang semua, yang tamat SMP saja tidak adaada di keluarga dan dikampung, makanya saat itu saya harus berhasil,” ungkap Eman Sulaeman.

Eman Sulaeman tertarik untuk kuliah hukum karena saat duduk dibangku SMP banyak membaca koran terkait kasus-kasus yang terjadi di Indonesia.

“Waktu SMP saya suka baca koran, saya banyak baca kasus-kasus yang terjadi, banyak masyarakat kecil yang butuh bantuan hukum, sehingga saya berpikir saya harus menjadi penegak hukum, jadi dulu tidak bercita-cita untuk jadi hakim, tapi harus menjadi penegak hukum,” kata Eman Sulaeman.

Eman Sulaeman berniat untuk jadi hakim saat kuliah di Universitas Pasundan, Bandung, Jawa Barat.

“Jadi saya bericita-cita jadi hakim sejak kuliah, setelah kuliah saya berpikir, jika jadi pengacara cuma meminta, saya jadi JPU jiga cuma memohon, sementara yang menentukan kan hakim, jadi saya saat itu bertekad untuk jadi hakim,” jelas Eman Sulaeman.

Menjadi hakim tentunya memiliki tanggungjawab yang besar, namun Eman Sulaeman mengatakan, semakin besar tanggung jawab semakin bersar pahalanya.

“Semakin besar tanggung jawab, semakin besar juga pahalanya dan kemaslahatannya ke orang, makanya saya tidak mau ada ketidakadilan, ketidakadilan itu adanya hanya diranjang sampah saja,” tegas Eman Sulaeman.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.