Terkini.id, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia butuh US$270 miliar atau setara Rp3.834 triliun (asumsi kurs Rp14.200 per dolar AS) untuk mitigasi perubahan iklim sesuai target Nationally Determined Contribution (NDC).
Dana sebesar itu akan digunakan untuk mengatasi ancaman yang lebih nyata dari pandemi Covid 19. Tak lain adalah perubahan iklim (climate change) yang kini menjadi persoalan global.
“Untuk mengurangi energi karbon kami membutuhkan anggaran US$ 270 miliar yang tidak akan tercukupi hanya dari anggaran kami dan pihak swasta dalam negeri. Butuh partisipasi dan dukungan global,” ujarnya dalam webinar ADBI akhir pekan lalu, yang dikutip Rabu 24 November 2021.
Selanjutnya, Sri Mulyani menjelaskan, anggaran ini dibutuhkan untuk bisa mengurangi energi karbon hingga 29%-41% pada tahun 2030 mendatang.
Namun, sayangnya anggaran belanja Indonesia tak cukup untuk memenuhi kebutuhan biaya tersebut. Untuk itu, Indonesia butuh partisipasi dari global.
- Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono Sesal Terkait Tapera
- Benny Rhamdani Minta Sri Mulyani Tak Menunggu Aturan Relaksasi Pajak untuk Mengeluarkan 120 Barang PMI
- Pemerintahan Jokowi Habiskan Rp 2.778 Triliun Bangun Tol Hingga Bandara, Said Didu: Ini Kebohongan Publik
- Ungkap Proses Pemulihan Ekonomi, Sri Mulyani Sebut Ini Faktor Geopolitik dan Geo-ekonomi
- Isi Surat PPATK Terkait Transaksi Janggal Rp 349 Triliun Akhirnya Terbongkar, Begini Isinya
Ini tantangan besar global,” ucap Sri Mulyani.
Oleh sebab itu, untuk mengumpulkan anggaran penanganan perubahan iklim ini, ia menyebutkan pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan. Diantaranya surat utang hijau atau green sukuk.
“Kami tidak hanya menggunakan sukuk hijau yang sudah ada sejak 2018. Sukuk yang kami sediakan sangat kompetitif. Juga ada obligasi konvensional,” kata dia.
Tapi ternyata itu saja dinilai tidak cukup. Oleh karenanya, ia berharap komitmen negara maju untuk membantu negara berkembang dalam mengatasi perubahan iklim bisa segera diimplementasikan.
“Komitmen negara maju sediakan US$ 100 miliar untuk membiayai adaptasi iklim itu belum dihadirkan. Ini penting untuk bisa mengatasi masalah iklim,” ungkapnya, dilansir dari CNN Indonesia.
Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan Indonesia butuh dana sekitar Rp3.779 triliun untuk memitigasi perubahan iklim sesuai target NDC. Dana itu dibutuhkan untuk periode 2020 hingga 2030.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa perkiraan kebutuhan dana itu dibuat berdasarkan referensi dari peta jalan NDC Mitigasi Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Referensi dibuat dengan menggunakan pendekatan biaya aksi mitigasi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
