Terkini.id, Makassar – Pandemi Covid-19 berimbas ke ranah bisnis retail. Ada perubahan paradigma di industri retail karena perubahan gaya hidup konsumen memasuki era new normal.
“Perubahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain yang saling berdampak terhadap negara lainnya,” ujar Hita Supranjaya,
Direktur Buka Pengadaan Bukalapak, dalam Seminar Daring Business Leadership Series#5 bertajuk A New Paradigm In Retail Industry yang digelar Kafegama MM UGM, MM FEB UGM, serta MMSA UGM.
Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Fenny Indah K, Regional Sales Manager East Indonesia PT. BMI MONIER, Sabtu 15 Agustus 2020.
Ia tidak menampik bisnis retail juga terdampak. Bahkan, muncul anggapan yang tidak bisa dibantah, bisnis retail mengalami penurunan.
- GM Hotel Gammara Bakal Bongkar Rahasia Public Speaking di Workshop IHGMA Sulsel
- Telkomsel Bantu Fasilitas Sanitasi di Dusun Parasengan Beru Maros
- IHGMA Sulsel Gelar Workshop Public Speaking "Unlock Your Voice" di Makassar
- Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Bank Mandiri Berbagi Ribuan Paket Sembako di Makassar
- Tambang Ilegal Diduga Tetap Beroperasi di Desa Tuju, Pernyataan Tegas Polres Jeneponto Belum Nyata
Zara, misalnya, punya lebih dari 2.000 outlet mengalami penurunan bisnis dan berencana menutup lebih dari 1.000 outlet di dunia.
Meskipun demikian, bisnis retail sebenarnya bisa bertahan selama mau beradaptasi.
Adaptasi yang dimaksud adalah mengikuti sudut pandang konsumen yang mulai berubah dari wants atau keinginan menjadi needs atau kebutuhan.
Seperti yang dilakukan Nike, walaupun mengalami penurunan 30 persen setiap tahun tetapi tidak sebesar Adidas. Sebab, Nike punya platform online dan ini banyak mendukung Nike saat new normal.
Menurut Hita, orang tidak pernah menyangka di masa pandemi justru terjadi peningkatan bisnis yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Salah satunya, groceries, food delivery, dan barang elektronik. Penyebabnya, orang lebih memilih untuk di rumah saja, tetapi kebutuhan harian tetap tercukupi.
“Bisnis alat olahraga juga mengalami peningkatan, misal sepeda di Indonesia, dan ini juga terjadi di negara-negara lain,” ucapnya.
Lantas, bagaimana cara bisnis retail beradaptasi di tengah pandemi? Ia mengungkapkan transformasi digital menjadi kunci. Artinya, bisnis retail harus merambah ke platform online.
Paradigma online shopping pun semakin meluas dan mendalam. Meluas yang bermakna bahwa produk yang biasanya tidak dipasarkan secara online kini mulai dijual online, sedangkan mendalam berarti konsumen semakin sering membeli barang secara online.
Ia mencontohkan, saat ini masyarakat mengatur skala prioritas kebutuhan. Tembakau atau rokok, jewelry, langganan di pusat kebugaran di Indonesia mengalami penurunan konsumsi 30 persen berdasarkan survei AC Nielsen.
“Pandemi ini seperti blessing in disguise dan bisa jadi kesempatan baru untuk industri retail berubah ke online dan menerapkan omni channel,” tuturnya.
Presiden Komisaris Ayla Associates, Ayla Aldjufrie, mengatakan digital personal branding menjadi sangat penting di masa seperti sekarang. Digital personal branding mampu memberi warna yang kuat di dalam produk yang ditawarkan.
“Bisnis yang menang bukan yang kuat tetapi yang bisa beradaptasi,” ujarnya
Ada sejumlah cara untuk membentuk digital personal branding bisnis retail yang kuat, yakni membangun tim, memiliki nilai, serta konsistensi terhadap personal branding.
“Konsisten terhadap positioning, misal jualan baju harus jelas dengan detail target pasarnya, apakah untuk perempuan atau anak-anak,” kata Ayla.
Personal branding juga berarti menciptakan rumus untuk memberi nilai sebuah produk. Misal, orang ingin berjualan pot dengan ciri khas pot berwarna hijau. Warna itu harus selalu ditampilkan. Untuk menambah nilai produk bisa dilakukan dengan membuat video berseri soal tanaman.
Menjual pot bukan berarti harus memproduksi sendiri. Orang bisa menjadi reseller dengan membeli via e-commerce Dan dikemas ulang sesuai personal branding yang ingin ditampilkan.
“Bisnis saat ini sedang tenggelam, oleh karena itu kita harus terlihat dengan mengedepankan personal branding,” ucapnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy N. Mandey, memaparkan fakta yang dihadapi industri retail di Indonesia selama pandemi Covid-19. Ia menyebutkan terjadi penurunan kunjungan ke toko retail yang mengakibatkan transaksi berkurang.
Memasuki era new normal, mal dan pusat perbelanjaan mulai kembali beroperasi. Namun, tingkat kunjungan hanya 30 sampai 40 persen jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi.
“Dari jumlah itu yang berbelanja pun hanya 10 sampai 20 persen,” ujarnya.
Masyarakat lebih fokus untuk kebutuhan kesehatan dan kebutuhan pokok. Akibatnya, industri retail berada di status survival mode.
Menurut Roy, survival mode tidak bisa hanya sekadar bertahan, melainkan juga harus berinovasi. Inovasi meliputi produk dan layanan.
Ia mencontohkan, saat ini banyak produk yang dibundling dengan corona. Kopi yang dijual dalam kemasan satu liter dianggap menjadi jawaban kebutuhan konsumen yang tidak bisa minum kopi di kafe karena kebijakan social distancing.
Ada pula industri garmen yang membuat pakaian nyaman untuk di rumah. Frozen food juga menawarkan hal yang sama, sehingga konsumen bisa menyetok kebutuhan makanan hariannya.
Dari segi pelayanan atau service, inovasi berarti memperluas pasar karena orang tidak lagi terpaku pada in store karena bisa membeli secara online.
“Industri retail di Indonesia harus mulai memanfaatkan AI dan big data sehingga tetap memiliki kedekatan emosi dengan konsumen tanpa harus bertatap muka secara langsung,” ucapnya.
Kedekatan emosi ini bisa terjadi ketika industri retail mengetahui stok belanjaan konsumen sudah menipis atau habis dan berinisiatif menawarkan belanjaan yang baru sebelum konsumen menghubungi.
Rilis
Lingga. Humas Kafegama
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
