Terkini.id, Jakarta – Politisi Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya menanggapi mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang mengkritik soal mahalnya harga PCR di Indonesia.
Mustofa berkelakar bahwa ia khawatir Susi Pudjiastuti akan diminta pindah ke India oleh para buzzerRp.
“Harap sabar, Bu Susi Pudjiastuti,” katanya melalui akun Twitter @TofaTofa_id pada Selasa, 27 Oktober 2021.
“Khawatir saja nanti Ibu diusir, disuruh pindah ke India oleh para buzzeRp,” sambung Mustofa Nahrawardaya.
Sebelumnya, Susi Pudjiastuti mengkritik harga PCR (Polymerase Chain Reaction) yang ia nilai terlalu mahal.
- Susi Pudjiastuti Turut Bangga Atas Pencapaian Cakra Khan di America's Got Talent 2023
- Jokowi Tinjau Jalan Rusak Lampung, Susi Pudjiastuti: Pak @jokowi Sering-Seringlah Bilang Mau ke Daerah-Daerah
- Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti Doakan Kiky Saputri Jadi Gubernur
- Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan Soal OTT KPK Tuai Berbagai Tanggapan
- Soal Ucapan Mahfud MD Tentang Pemilu dan SBY, Susi Pudjiastuti: Maksudnya Curang Itu Biasa?
Ia mempertanyakan mengapa harga PCR di Indonesia tidak bisa seperti di India yang harganya jauh lebih murah.
“Harga PCR mau dipakai di semua moda transportasi,” katanya melalui akun Twitter @susipudjiastuti pada Selasa, 26 Oktober 2021.
“Bisakah harganya seperti India? Kenapa Kita di Indonesia harus bayar 4xnya, bahkan 6x sampai dengan 10x nya. Kenapa dihimbau turun hanya sd Rp 300.000?” tambahnya.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Pemerintah kota New Delhi, India baru-baru ini menurunkan harga PCR menjadi 500 rupee atau Rp96 ribu, dari yang sebelumnya di kisaran 800 rupee atau setara Rp150 ribu.
Adapaun untuk antigen, India menetapkan harga tes antigen cepat berada di angka 300 rupee atau sekitar Rp 58 ribu.
“Pemerintah Delhi secara drastis mengurangi harga tes Corona. Ini akan membantu orang biasa,” ujar Kepala Menteri Delhi, Arvind Kejriwal.
Adapun di Indonesia, Kemenkes telah menetapkan tarif batas tertinggi untuk swab PCR mandiri sebesar Rp900 ribu.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengaku bahwa penetapan harga tertinggi PCR di RI telah dikonsultasikan dengan berbagai pihak, termasuk auditor.
“Jadi Kemkes tidak melakukan penetapan sendiri sama seperti penetapan HET (harga eceran tertinggi) obat,” katanya.
Siti Nadia juga menyebut pihaknya terbuka untuk menerima kritik dan saran dari berbagai pihak soal harga PCR ini.
“Prinsipnya kami terbuka untuk berbagai masukan juga bila perlu dilakukan evaluasi tentang harga PCR ini,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
