Kami bekerja cepat. Infus dipasang. Pemeriksaan dilakukan. Saat pemeriksaan dalam, saya menemukan robekan hebat pada vaginanya.
Sungguh dalam. Di situlah sumber perdarahan yang mengancam nyawanya.
Hasil laboratorium pun datang. Tabe dokter, kadar hemoglobin nya 2 mg/dl. Lapor perawat yg membersamaiku tugas jaga malam itu. Sungguh rendah.
Normalnya 12.
Adrenalin kami makin meningkat.
Tidak ada satu pun dari petugas medis yang bertanya tentang biaya. Tidak ada yang menunggu keluarga.
Malam itu tim jaga seperti satu keluarga kecil. Ada yang mengurus darah ke PMI dengan uang pribadi. Ada yang menyiapkan obat.
- Innalillahi, Putra Mantan Gubernur HZB Palaguna, Mawang Palaguna Meninggal Dunia
- Bupati Andi Utta Apresiasi KM Bulukumba di Rantau yang Konsisten Berkurban untuk Kampung Halaman
- Perjalanan Telkomsel Selama 31 Tahun Menjaga Semangat 'Melayani Sepenuh Hati'
- Kisah Haru Opa Liu, Warga Kelahiran Makassar yang Bangun "Indonesia Kecil" di Tiongkok
- MaxOne Hotel & Resort Makassar Gelar Salat Ied dan Salurkan Daging Kurban ke Warga Sekitar
Ada yang menyiapkan operasi darurat. Di luar sana kembang api terus meledak. Di dalam sini, kami bertarung dengan maut.
Dua hari kemudian kondisinya mulai membaik. Ia mulai bisa bicara. Dengan suara pelan dan mata yang basah, ia bercerita:
“Dok… malam tahun baru saya janjian dengan pacar saya di rumah temannya. Saya diberi minuman. Setelah itu saya pusing… lalu tidak sadar. Tahu-tahu saya sudah di rumah sakit.”
Ia menangis. Bukan hanya karena rasa sakit, tetapi karena sadar bahwa sesuatu yang tak akan pernah kembali telah direnggut darinya. Dan nyawanya hampir ikut pergi.
Kami bertanya apakah ia hafal nomor orang tuanya. Kami pun menghubungi mereka. Tidak lama kemudian ayah dan ibunya datang.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
