Tak Perlu Risau! Omicron Timbulkan Gejala Lebih Ringan, Begini Penjelasan Menurut Studi

Tak Perlu Risau! Omicron Timbulkan Gejala Lebih Ringan, Begini Penjelasan Menurut Studi

R
Nurhaliza
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Varian Omicron dari SARS-CoV-2 terbilang memiliki gejala lebih ringan dan kurang mampu untuk menyusup ke dalam paru-paru serta menyebar dari sel ke sel dibandingkan dengan versi lain dari virus corona menurut studi awal tentang sel manusia di laboraturium.

Seperti yang dikutip Live Science, dijelaskan bahwa beberapa data awal dari negara-negara terserang seperti Afrika Selatan dan Inggris menunjukkan bahwa varian virus tersebut menyebabkan gejala lebih ringan dan tidak terlalu parah.

Namun meskipun omicron kemungkinan tidak menyerang sel paru-paru secara efisien, studi baru yang diunggah pada Selasa, 21 Desember 2021 ke database pracetak bioRxiv menegaskan bahwa varian tersebut menghindari sebagian besar antibodi individu yang telah divaksinasi penuh.

Serupa dengan penelitian lain, para peneliti menunjukkan dosis penguat atau yang seringkali disebut dosis “booster” dari vaksin Pfizer secara signifikan meningkatkan kekuatan netralisasi antibodi orang yang telah melakukan vaksinasi.

“Meskipun begitu, kami masih menduga akan terjadinya hal tak yang tak diharapkan seperti penurunan kekebalan dari waktu ke waktu,” ujar Revindra Gupta, seorang professor mikrobiologi klinis di Cambridge institute for Therapeutic Immunology and Infectious Deseases.

Baca Juga

Penelitian ini belum ditinjau oleh rekan sejawat atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah, tetapi temuan tersebut mengisyaratkan bahwa “mutasi omicron menghadirkan virus dengan pedang bermata dua: ia menjadi lebih baik dalam menghindari sistem imun, tetapi mungkin telah kehilangan kemampuannya yang menyebabkan penyakit parah”, tambah Gupta.

Meskipun demikian, para ilmuwan masih perlu memastikan bahwa hasil percobaan di laboraturium ini cocok dengan apa yangterjadi pada pasien manusia, dan bahwa mutasi omicron benar-benar memengaruhi tingkat keparahan infeksi.

Data dari Afrika Selatan, Inggris, dan negara-negara lain menunjukkan bahwa mungkin rata-rata infeksi omicron timbulkan gejala lebih ringan, tetapi tingkat kekebalan dari infeksi alami dan vaksinasi membuat hal tersebut masih sulit untuk ditafsirkan.

Omicron sampai saat ini dilaporkan memiliki lebih dari 30 mutasi. Untuk menyelidiki bagaimana lonjakan mutasi ini dapat mengubah cara virus berinteraksi dengan sel dalam tubuh, para peneliti pun merekayasa virus sintetis.

Virus sintetis itu disebut Pseudovirus yang membawa protein tambahan omicron. Sebagai perbandingannya, mereka juga menghasilkan Pseudovirus dengan protein tambahan Delta dan beberapa dengan tambahan Wuhan-1, atau virus SARS-CoV-2 asli.

Studi di masa depan pun perlu mengonfirmasi bahwa eksperimen di laboraturium ini diterjemahkan ke dalam tubuh manusia. Sementara itu, percobaan tim peneliti dengan antibodi menegaskan bahwa untuk mencapai perlindungan maksimal terhadap varian tersebut, setiap orang harus mendapatkan suntikan booster secepatnya, imbuh Gupta dalam pernyataanya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.