Kebesaran cinta seorang ibu atau ayah tak terukur takaran apapun. Demikian sebaliknya, cinta anak pada kedua orang tua juga tak terkira.
Demikian bulan Ramadan hadir “mempertemukan” tali cinta mereka dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Kebersamaan dalam keluarga sangat terasa di awal Ramadan ini.
Tentunya diantara hikmah Ramadan cukup terasa melalui kebersamaan dalam ruang keluarga, ditandai kehadiran ayah, ibu dan anak-anak berkumpul secara bersamaan, baik kala sahur maupun berbuka puasa.
Suasana yang jarang dirasakan di luar Ramadan dengan berbagai alasan. Ayah sibuk dengan kerjaan kantor dan ibu juga mengalami hal yang sama.
Sementara anak sibuk di sekolah atau di kampus. Sulit untuk menemukan waktu secara bersama menunaikan shalat magrib berjamaah juga makan malam bersama keluarga, kecuali sesekali melalui week end family.
Kebersamaan dalam kelurga sejak awal Ramadan ini diharapkan terjaga hingga memasuki lebaran. Tampaknya, setiap kelurga perlu membuat program “kembali ke rumah”.
Kadang kala dengan berdalil pada kesibukan, ayah dan ibu membatasi komunikasi dengan halnya dengan anak-anak mereka.
Curahan hati sang anak tidak tersajikan dengan penuh kemanjaan pada orang tua, akibatnya sang anak memendam perasaan sendiri atau justru pada orang lain. Anak merasa berjarak dengan orang tuanya.
Kebanggaan anak pada orang tua sulit diluapkan, sekalipun perasaan itu selalu ada. Sebaliknya, orang tua tanpa menyadari perkembangan sang anak, secara fisik dan psikologis.
Masa-masa indah untuk bercengkrama atau menimang sang anak berlalu dan tidak akan kembali atau tergantikan. Kurangnya perhatian apalagi kasih sayang orang tua pada anak-anak, belakangan memicu dan memacu kenakalan remaja.
Tak dinyana, seorang pejabat dengan posisi mapan di tempat kerjanya, justru tercoreng aib kelakuan anaknya yang menyimpang.
Berdalih sang anak disekolahkan di sekolah elite dan ternama bahkan lembaga pendidikan keagamaan bakal menjadikan sang anak menjadi pribadi yang shaleh-shalehah.
Sekolah elite atau pesantren adalah lembaga yang tepat untuk pendidikan agama anak, tetapi bukan garansi. Betapa sang anak memiliki interaksi lebih massif di luar lembaga pendidikan, tetapi pengaruh lingkungan sulit dibendung.
Tanpa kehadiran dan kepedulian sang orang tua, sulit berharap sang anak juga terjaga dari aspek intelektualitas dan religiusitasnya. Sekolah pertama dan utama, tetaplah dalam keluarga.
Momentum Ramadan juga, kembali “mempertemukan” tali cinta anak dengan kedua orang tuanya. Titik balik kebahagiaan kala Ramadan hadir sebagai momen bertemunya seluruh anggota keluarga dalam balutan cinta.
Terasa berbeda dengan hari-hari lain, seorang ayah atau ibu sibuk dengan karir masing-masing dan mengabaikan mematrikan cinta dan kasih sayangnya, melainkan memenuhi kebutuhan materil yang justru mendidiknya menjadi pribadi hedonis-konsumeris.
Kala orang tua menanam cinta untuk masing-masing buah hatinya, niscaya dalam noktah waktu yang lain, akan menuainya dengan kasih sayang sang anak kepada mereka.
Betapa indahnya Ramadan mempertemukan rajutan tali cinta dalam keluarga menjalankan amaliah Ramadan bersama. Untuk kembali menanam cinta pada anak dan menuai kebahagiaan orang tua.
Dr. Firdaus Muhammad, MA
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
