Terkini.id, Jakarta – Dedek Prayudi alias Uki menanggapi Ketua Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Martak yang mengingatkan aparat untuk tak menyesal jika suatu saat umat Islam hilang kesabaran dan mengambil cara sendiri.
Uki yang merupakan Direktur Eksekutif Centre For Youth and Population Research (CYPR) menilai bahwa narasi “barisan kami barisan Tuhan” kini mulai bermunculan.
“Narasi ‘barisan kami barisan Tuhan’ sudah mulai bermunculan, narasi ‘di luar barisan kami adalah musuh Tuhan’ mulai nampak hilalnya,” kata Uki melalui akun Twitter pribadinya pada Senin, 27 Desember 2021.
“Politisasi agama ku prediksi akan terjadi pada 2024. Beruntung, Pemilu 2024 akan didominasi oleh Milenial dan Gen Z (altogether 54,4%) yang rasional,” sambungnya.
Bersama pernyataannya, Uki melampirkan tangkapan layar berita berjudul “Yusuf Martak: Jangan Menyesal Bila Suatu Saat Kesabaran Umat Islam Telah Hilang dan Mengambil Cara dan Jalannya Sendiri”.
- Yusuf Martak: Menteri Non Islam Larang Muslim Ibadah, Sangat Lucu
- Waduh! Yusuf Martak Sebut Prabowo Pernah Bawa Uang Hasil Sumbangan Umat, Beneran?
- Yusuf Martak Mengaku Anak Pahlawan, Habib Zein Assegaf: Anda Bukan Anaknya Cuma Ponakan
- Yusuf Martak Ingatkan Jangan Menyesal Jika Umat Islam Hilang Kesabaran, Denny Siregar: Umat Kadrun Kali!
- Yusuf Martak Peringatkan Jangan Menyesal jika Umat Islam Hilang Kesabaran, DS: Umat Kadrun Kale
Selain itu, ia juga membagikan cuitannya soal politisasi agama beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, Uki merespons soal Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta yang menyebut akan membela Gubernur Anies Baswedan dari serangan buzzer.
“Saya sudah menduga politisasi agama akan kembali mewarnai panggung demokrasi kita, tapi saya tidak menyangka secepat ini,” kata Uki pada 20 November 2021.
“Tinggal tunggu waktu akan keluar narasi ‘barisan kami barisan Tuhan, di luar barisan kami musuh Tuhan’. Pemainnya itu lagi itu lagi,” sambungnya.
Adapun peringatan Yusuf Martak soal umat kehilangan kesabaran itu ia sampaikan saat menanggapi soal Presiden Rusia, Vladimir Putin yang membela Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana diketahui, Putin sebelumnya menegaskan bahwa penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pelanggaran terhadap kebebasan beragama.
Yusuf Martak pun memuji bahwa Rusia merupakan negara yang penduduknya bukan mayoritas Islam, namun Presidennya justru melindungi dan melarang masyarakatnya menghina simbol-simbol agama Islam maupun agama lain.
Ia membandingkan dengan situasi di Indonesia yang menurutnya sangat ramai bermunculan penistaan agama, khususnya terhadap agama Islam.
Bahkan, ia juga menilai bahwa saat ini banyak yang mengaku beragama Islam, tetapi ternyata Islamofobia dan seperti menjadi komunis gaya baru.
Ia mengatakan demikian sebab menilai bahwa banyak laporan terhadap orang yang terindikasi penista agama yang tidak ditindak oleh aparat.
Lebih spesifik, Yusuf Martak menyebut banyak buzzer sampah peradaban bangsa yang sampai saat ini terkesan mendapat perlindungan pihak tertentu.
“Apakah apabila aparat tidak menindaklanjuti laporan-laporan masyarakat lalu pimpinan aparatnya ditegur oleh Presiden?” ujarnya pada Minggu, 26 Desember 2021, dilansir dari RMOL.
Bahkan, Yusuf Martak mengatakan bahwa para buzzer tersebut diyakini melaporkan kepada pimpinannya atas karya-karya penghinaan mereka yang membuat gaduh masyarakat.
“Mustahil orang yang beragama Islam rela membayar buzzer-buzzer penjilat untuk agamanya dihinakan dan dinista, berarti mereka aslinya adalah komunis gaya baru yang sedang menyusun kekuatan,” katanya.
Yusuf Martak pun mengingatkan kepada aparat penegak hukum untuk tidak terus-menerus cuek dengan tidak mengambil tindakan pada para penista yang menggaduhkan negara.
“Maka jangan menyesal bila suatu saat kesabaran umat Islam telah hilang dan mengambil cara dan jalannya sendiri,” tegasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
