Terkini.id — Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah mendampingi Gubernur Perfekture Ehime, Jepang, Tokihiro Nakamura menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla, di ) di Kantor Wapres, di Jalan Merdeka Utama Jakarta Pusat, Senin 14 Januari 2018.
Takihiro Nakamura membawa rombongan, sejumlah pengusaha dan perbankan. Pertemuan tersebut menandakan kerjasama antara Sulsel dan Perfekture Ehime, Jepang dimulai.
Kedua provinsi beda negara ini akan bekerjasama di bidang pengembangan model operasi pengembangan akuakultur.
“Mereka akan mengembangkan budidaya ikan tuna, dan beberapa yang memang kualitas ekspor, kita berharap, besok di Makassar kita akan tandatangani MoU, ini tahapan awal untuk pengembangan,” kata Nurdin Abdullah.
Rencananya rombongan ini akan berada di Makassar dan merupakan kunjungan balasan setelah Nurdin Abdullah pada bulan Desember lalu melakukan kunjungan ke Ehime.
- Harumkan Makassar dan Sulsel, Murid SMP Al Biruni Ikuti Lomba ALOHA Tingkat Dunia di Panama
- Ketua DPRD Sulsel Terima Aspirasi Ribuan buruh, Desak Revisi UU Ketenagakerjaan
- Di Hari Jadi ke-66, Gubernur Canangkan Kota Parepare sebagai Pusat Pertumbuhan Baru Sulsel
- Antrean di SPBU Meningkat, Pemprov Sulsel Pastikan Stok BBM Aman
- Sulsel Jadi Pusat Penguatan Pengelolaan Aduan Publik se-Sulawesi
Nurdin membeberkan, pihak Jepang akan mengirim beberapa sumber daya manusia (SDM) yang mereka miliki di bidang akuakultur untuk memberikan training. Selain menyiapkan SDM, juga pembangunan infrastruktur. Sehingga transfer knowledge dan teknologi dapat dilakukan.
“Infrastruktur juga mulai dibangun dan mereka juga sudah siap untuk training di Indonesia untuk bekerja sama,” sebutnya.
Dalam pertemuan pertama ini, Nurdin menyatakan belum mengetahui berapa besaran investasinya.
Mantan Bupati Bantaeng ini, di Sulsel hampir semuanya visible (dapat) untuk dilakukan budidaya untuk daerah pesisir pulau-pulau. Ini setelah pihak mereka melakukan survei. Kecuali daerah daratan.
“Selayar itu itu cukup bagus, disamping luas, wilayahnya masih sangat belum tercemar, karena mereka butuh wilayah yang masih virgin,” ujar NA.
Imbuhnya, mereka di Jepang telah melakukan budidaya, mengembangkan satu keramba dengan 1.500 ekor. Dan dalam empat tahun bisa menjadi 100 Kg.
“Itukan mereka empat musim, kita coba lihat di Indonesia itu dalam dua tahun bisa menjadi 100 kg. Nah satu keramba itu nilainya sekitar Rp27 miliar,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
