Terkini.id, Jakarta – Mantan Wasekjen MUI, Tengku Zul memprotes Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang tidak memasukkan nama Abdul Kahar Mudzakkir dalam kamus sejarah Indonesia.
Padahal, kata Tengku Zul, Kahar Mudzakkir merupakan salah satu dari 9 anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Hal itu disampaikan penceramah bernama lengkap Tengku Zulkarnain ini lewat cuitannya di Twitter, seperti dilihat pada Rabu 21 April 2021.
Awalnya, Tengku Zul menyebut pada akhirnya Kemendikbud meminta maaf lantaran toledor tidak memasukkan nama Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di dalam kamus sejarah Indonesia.
“Akhirnya Kemendikbud minta ma’af teledor tdk masukkan KH Hasyim Asy’ari,” cuit Tengku Zul.
- Sindir Ulama Belum Tentu Masuk Surga, Dewi Tanjung: Boro-Boro Mereka Berfikir, di Hadapan Allah Saja Sudah Susah!
- Abu Janda: Tengku Zul dan Edy Mulyadi adalah Bukti Kelompok Islam Radikal Intoleran Hama Bagi Kebhinnekaan
- Heboh Pengurus MUI Ditangkap Densus 88, Pernyataan Almarhum Tengku Zul Diungkit
- Notaris Dipolisikan Gegara Nistakan Tengku Zul, Denny Siregar: Emang Dia Simbol Agama?
- Postingannya Dinilai Hina Almarhum Tengku Zul, Notaris: Maaf Saya Khilaf
Akan tetapi, kata Zul, nama Kahar Mudzakkir yang merupakan salah satu dari 9 anggota PPKI juga tidak masuk di dalam kamus terbitan Kemendikbud tersebut.
Malahan, menurut Tengku Zul, di dalam kamus sejarah Indonesia itu malah masuk empat tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Tapi nama Kahar Mudzakkir, salah satu dari 9 anggota PPKI juga tidak masuk. Malah 4 tokoh PKI masuk,” tuturnya.
Sebelumnya, Kemendikbud buka suara terkait nama tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari yang tidak dicantumkan dalam kamus sejarah Indonesia.
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan, pihaknya tidak berniat menghilangkan peran KH Hasyim Asy’ari dalam kamus sejarah.
“Kesimpulannya terjadi keteledoran yang mana naskah yang belum siap kemudian diunggah ke laman Rumah Belajar. Tidak ada niat untuk menghilangkan KH Hasyim Asy’ari sebagai tokoh sejarah dalam buku tersebut,” kata Hilmar, Rabu 21 April 2021 seperti dikutip dari Antara.
Ia pun mengungkapkan peran KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU dijelaskan di halaman lain. Maka dari itu, Hilmar memohon maaf atas kesalahan teknis saat pembuatan kamus sejarah Indonesia tersebut.
“Jadi narasi menghilangkan peran KH Hasyim Asy’ari itu tidak benar. Kami mengakui memang ada kesalahan teknis dan kami memohon maaf. Kesalahan itu seharusnya tidak perlu terjadi,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
