Terkini, Makassar – Tidak banyak yang mau mendengar kisah di balik kehidupan para mantan pekerja seks perempuan (PSP). Sebagian besar masyarakat hanya melihat dari permukaan, memberi stigma, lalu menolak keberadaan mereka.
Padahal, di balik itu terdapat dinamika yang membuat mereka menempuh jalan tersebut sebagai pilihan terakhir untuk bertahan hidup.
Masalah yang dialami mantan pekerja seks perempuan inilah yang melatarbelakangi lahirnya High Five Victory (HiFive), sebuah program yang digagas oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Program ini menjadi ruang aman bagi mantan PSP untuk memulihkan diri sekaligus menemukan kembali potensi mereka.
Acara dengan tema “Perwujudan Emansipasi Pada Mantan PSP Sebagai Transformasi Diri Menuju Ingenuity dan Holistic Wellbeing” digelar pada Selasa, 30 September 2025, di Makassar Creative Hub, Anjungan Pantai Losari. Kegiatan ini dihadiri oleh Tim HiFive bersama dosen pendamping, Umniyah Saleh, S.Psi., M.Psi., Psikolog, 22 volunteer, 10 mitra, Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI), serta perwakilan dari DP3A, Dyah Ramadhani, S.Psi.
- Desakan Insan Pers, Hukum Polisi yang Merampas HP Wartawan Saat Meliput Pengungkapan Sabu 1 Kg di Jeneponto
- LPS Gandeng Unhas Bekali Generasi Muda Makassar Bentengi Finansial di Era Digital
- Dari Pendidikan hingga Infrastruktur, Wali Kota Appi Pastikan Perhatian Pemkot Menjangkau Wilayah Kepulauan
- Dr. Aswati Asri Nahkodai Prodi Pendidikan Bahasa Makassar, Fokus Perkuat Mutu Akademik
- Pemkot Makassar Hadirkan Pete-pete Laut Gratis untuk Pelajar, Nakes, dan Warga Kepulauan
Ketua Tim HiFive, Liliana Mu’allim, mengungkapkan bahwa inisiatif ini bermula dari pertemuan tidak terduga dengan salah satu mitra. Pertemuan itu membuka mata mahasiswa bahwa banyak mantan PSP yang masih berjuang menghadapi stigma.
“Awalnya kami bertemu salah satu mitra secara tidak sengaja. Ia bercerita tentang masalah yang dialaminya, dan ternyata dinamika itu juga dirasakan banyak rekan-rekannya sesama mantan PSP. Dari situlah kami mulai tergerak. Kami sadar, orang sering memandang pekerjaan itu sebagai sesuatu yang negatif. Padahal sebenarnya, itu adalah pilihan terakhir untuk bertahan,” jelas Liliana.
Rasa percaya akhirnya terbangun karena para mitra menyadari mahasiswa tidak datang untuk menghakimi, melainkan mendampingi.
“Sejak awal kami sampaikan bahwa kami tidak datang untuk memberi penilaian negatif. Kami ingin sama-sama belajar, sama-sama mengembangkan potensi, dan sama-sama melepaskan diri dari belenggu masa lalu. Karena itulah mitra akhirnya percaya,” tambahnya.
Menurut dosen pendamping, yaitu Umniyah Saleh, S.Psi., M.Psi., Psikolog, keberanian tim HiFive mengangkat isu yang sensitif seperti mantan PSP patut diapresiasi. Ia menjelaskan bahwa ide ini muncul karena kepedulian mahasiswa terhadap kelompok yang selama ini kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
