Unhas Tak Lagi Miliki Guru Besar Sejarah

Prof Dr Rasyid Asba MA telah Berpulang

AWAN mendung kembali menyelimuti atmosfer Universitas Hasanuddin (Unhas) Sabtu (5/10/2019) pagi. Duka cita ini beruntun saja merundung Kampus Merah dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah beberapa waktu lalu Dr. Latamba, M.Si, (Fisip), Prof.Dr.Yusran Nur Indar (Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan) Prof.Dr.Baharuddin (Fisip Unhas), Dr.Ilham Tadjuddin (Ekonomi), Prof.Dr.Syawal (Peternakan), Sabtu (5/10) pagi, Prof, Dr.A.Rasyid Asba, M.A., Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas berpulang ke rakhmatullah saat bermain bulutangkis di Jl. Toddopuli, Makassar.

Berpulangnya Rasyid Asba yang memperoleh surat keputusan pengangkatan jabatan Guru Besar pada 22 Juli 2009 dalam suatu acara pelantikan dari Rektor Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi bersama sejumlah maha guru lainnya. Dua nama lainnya, Prof.Dr.Muhammad Darwis M.S dan Prof.Dr.Nurhayati Rahman, M.Hum, (FIB Unhas).

Kehilangan almarhum membuat Unhas tidak lagi memiliki guru besar Sejarah. Pasalnya, almarhum satu-satunya dosen yang memangku jabatan maha guru di antara 12 dosen lainnya di Departemen Sejarah FIB Unhas saat ini.

Departemen Sejarah FIB Unhas pun kini tinggal 11 orang dosen sepeninggal almarhum. Dari jumlah itu, 7 orang bergelar doktor, selebihnya masih magister dan ada yang sedang mengikuti pendidikan S-3.
Almarhum setelah terjatuh saat bermain bulutangkis, sempat dilarikan ke RS Hermina Jl. Toddopuli Timur, tak jauh dari tempatnya bermain bulutangkis, Namun nyawanya tidak tertolong.

Setibanya di rumah sakit, dia dinyatakan meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sejumlah dosen dan kerabat dari Unhas dan keluarganya sudah berdatangan di Jl. Ekonomi II Unhas Kompleks Unhas Biringromang Manggala Makassar, rumah duka, ketika mayat masih dalam perjalanan dari RS Hermina.

Gubernur Sulsel M.Nurdin Abdullah, Rektor Unhas, para wakil rektor, Sekretaris Unhas, dan sejumlah dekan fakultas beserta dosen Unhas melayat ke rumah duka, sebelum jenazah dibawa ke Kabupaten Sinjai pada pukul 17.00 untuk dikebumikan Ahad (6/10) ini.

Istri almarhum yang bertugas di Jakarta, juga tiba di rumah duka menjelang keberangkatan jenazah ke tanah kelahiran almarhum.

Mau Pulang

Kematian memang sebuah misteri yang jadwalnya tak seorang pun dapat menduganya. Namun, setelah kematian itu benar-benar datang, barulah muncul isyarat yang diduga dapat dikait-kaitkan sebagai isyarat misterius kematian seseorang. Ini pun terjadi dengan almarhum Rasyid Asba.

Tiga hari sebelumnya, almarhum menyambangi kampung kelahirannya di Sinjai. Dia bersilaturahim dengan keluarganya di sana, meski pada tanggal 7 November 2018 almarhum juga ke Sinjai dalam kapasitas sebagai anggota tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan itu, dia bertemu dengan Andi Seto Gadhista Asapa, Bupati Sinjai, yang tidak lain putra Andi Rudiyanto Asapa, S.H., mantan Bupati Sinjai.

“Saya mau pulang dulu,” kata almarhum ketika menjabat tangan adiknya dalam kunjungannya yang terakhir kali.

“Mau pulang ke mana?,” adiknya masih sempat bertanya mendengar kalimat kakaknya, yang mungkin saja terdengar tidak lazim pada setiap mereka berpisah.

“Ya, mau pulang ke kampus,” ujar almarhum yang dilahirkan di Sinjai 31 Desember 1966 tersebut menyahuti pertanyaan adiknya.

Wajah yang Tenang

Sabtu (5/10) subuh, seperti biasa, almarhum bergabung dengan sahabatnya H.Arsyad, pemilik halakah (gelanggang, tempat peserta diskusi, duduk membentuk lingkaran membahas masalah keislaman) di Kompleks Unhas Biringromang.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Rasyid memang aktif di halakah tersebut guna lebih kontemplatif mendalami masalah-masalah agama Islam.

Selain H.Arsyad, pada subuh itu juga ada Dr.Mardi Adi Amin, M.Hum, dosen FIB Unhas yang pada tahun 2017 sama-sama dengan almarhum tercatat sebagai kandidat Dekan FIB Unhas bersama, Prof.Dr.Akin Duli, yang kemudian memenangkan pertarungan kursi panas dekan tersebut.

“Saya tidak menangkap ada isyarat khusus dari almarhum, kecuali wajahnya tampak tenang dan berseri,” kisah Mardi Amin kepada saya, Sabtu siang usai salat zuhur saat menghadiri hajatan di kediaman Ketua ORW VI H.M.Syafei, B,Sc., di dekat. Masjid Amirul Mukminin Kompleks Unhas Biringromnang, Makassar
Tetapi, kata dosen Departemen Sastra Barat Roman (Perancis) FIB itu, ada sesuatu yang tak biasa dari almarhum ketika H. Arsyad bercerita pengalamannya tentang seseorang yang pernah membaca garis tangannya.

“Menurut penglihatan orang tersebut terhadap garis tangan, saya ini cocok sebagai juru pengeboran air,” sebut H.Arsyad seperti diceritakan Mardi.

“Ya, memang, itu pekerjaan saya,” sambung H.Arsyad lagi, bersamaan dengan tangan almarhum memegang tangan sahabatnya itu.

Menurut Mardi, apa yang dilakukan almarhum merupakan hal yang tidak biasa dia lakukan, meskipun ada hal-hal menggembirakan sekalipun.

Dikira Bagian dari Permainan

Usai meninggalkan halakah, almarhum mampir di kediaman adik perempuan satu-satunya, Zuaeba. Adik almarhum ini termasuk teman seperjalanan saya dalam rombongan Korps Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMA PBS) Unhas yang melakukan bakti sosial di Timor Timur, 1994, lima tahun sebelum bekas jajahan Protugis itu memilih merdeka dalam suatu referendum yang sarat dengan kecurangan asing.

Dari kediaman adiknya yang hanya berjarak sekitar 200 m dari kediamannya, almarhum kembali ke rumahnya di Jl.Ekonomi II, sebagai persiapan pergi bermain bulutangkis. Almarhum memang sering menyambangi adiknya, karena di rumah dia hanya tinggal dengan anak-anaknya.

Istrinya tinggal dan bekerja di Jakarta. Salah seorang warga memperoleh cerita di rumah duka menjelang musibah menimpa almarhum. Ketika itu, almarhum bermain dengan Dr.Jayadi Nas, mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel yang juga dosen Fisip Unhas. Dalam suatu permainan bola (cock) di depan net, almarhum maju bagaikan terhuyung-huyung.

“Bukan begitu tekniknya, Prof,” begitu kira-kira seorang temannya yang melihat gerak tubuh almarhum berkelakar. Mungkin saja disangkanya maha guru yang terdaftar sebagai siswa SMA Negeri 277 Sinjai angkatan 1985 itu melakukan improvisasi dalam mengambil bola “netting”.

Setelah terhuyung-huyung, terjadi gerakan yang di luar dari aksi permainan, salah seorang lainnya segera menangkap tubuhnya yang sudah oleng agar tidak tumbang ke depan. Setelah tegak kembali dan besar kemungkinan, almarhum dianggap sudah normal, namun ternyata kemudian terjatuh ke belakang dengan kepala terbentur di lantai lapangan.

Saat diangkat untuk segera diberi pertolongan dengan membawanya ke rumah sakit, desah napasnya terdengar keras bergemuruh.

Prof A Rasyid Asba, termasuk pribadi yang cukup menyejukkan. Dia dikenal ramah pada setiap orang. Posisinya sebagai satu-satunya guru besar Sejarah di Unhas, membuat banyak pihak yang mengundangnya sebagai saksi ahli dalam beberapa perkara yang menyoal masalah kesejarahan di Sulawesi Selatan ini, sepeninggal Dr.Edward Polinggomang.

Rasyid Arba juga tercatat sebagai Ketua Asosiasi Arsiparis Indonesia (AAI) Sulawesi Selatan periode 2018-2021 dan dilantik 9 Agustus 2018 oleh Dr.H.Andi Kasman, S.E., M.M. di Ruang Rapat Pimpinan kantor Gubernur Sulsel. Selain almarhum, juga ada nama Drs.H.Ajhmad Saransi, M.M. sebagai wakil ketua, Drs. Yulianto, MM sebagai Sekretaris.

Selain, Unhas kehilangan besar karena ketiadaan guru besar Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Unhas harus mencari sosok baru lagi guna mengisi kursi Wakil Dekan II FIB yang ditinggalkan almarhum.

Prof. Akin Duli meskipun bisa saja melihat almarhum sebagai “lawan politiknya” waktu suksesi Dekan FIB tahun 2017, namun tetap memilih almarhum sebagai personel kabinet FIB empat tahun kepemimpinannya. Langkah Prof. Akin Duli ini patut diacungi jempol, karena pilihannya itu mustahil terjadi dalam realitas politik kekinian di republik yang terus saja dirundung beragam masalah ini.

Selamat Jalan Profesor, semoga husnul khatimah. Aamiin. (mda)

Berita Terkait
Komentar
Terkini