Masuk

WALHI Sulsel Minta Penataan DAS Jeneberang Tak Menggusur Masyarakat

Komentar

Terkini.id, Makassar – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan meminta Pemerintah Kabupaten Gowa dan Balai Besar Wilayah Sungai BBWS (BBWS) Pompengan Jeneberang tak menggusur masyarakat yang bermukim dan mencari hidup di sekitar kawasan Bendungan Bili-Bili. 

Kekhawatiran itu muncul setelah Bupati Gowa menyatakan mendukung Kepala BBWS Pompengan Jeneberang untuk menata DAS Jenebrang. 

Salah satunya, merelokasi pemilik lesehan yang selama ini menjadi dampingan WALHI Sulsel dalam program pengelolaan sampah.

Baca Juga: Walhi Desak Kejati Percepat Kasus Oknum Anggota DPRD Sulsel Soal Pendudukan Hutan Lindung

Sikap dan permintaan ini disampaikan Direktur WALHI Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin melalui pernyataan pers usai Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, menggelar pertemuan dengan BBWS Pompengan Jeneberang

“Saya berharap penataan DAS Jeneberang tidak mengorbankan warga, tidak menggusur masyarakat yang selama ini mencari hidup dan bermukim di kawasan Bendungan Bili-Bili, karena pada dasarnya masyarakat tidak pernah berkontribusi negatif terhadap DAS Jeneberang maupun Bendungan Bili-Bili,” ujar Amin, Rabu, 21 September 2022.

Amin menambahkan bahwa keberadaan masyarakat di kawasan Bendungan Bili-Bili telah memberi kontribusi yang positif bagi ekonomi Kabupaten Gowa. 

Baca Juga: Tagih Janji Wali Kota Makassar, Tak Membangun di Atas RTH

Selain itu, masyarakat selalu memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar tempat usaha mereka. 

“Perlu diketahui oleh Bupati Gowa dan Kepala BBWS Pompongan Jeneberang bahwa saat ini terdapat 37 pemilik lesehan yang mengantungkan hidup di sekitan Bendungan Bili-Bili. Bayangkan kalau setiap lesehan mempekerjakan 4 orang, maka ada 120-an orang yang hidup dari usaha tersebut,” tuturnya.

Selain itu, terkait masalah lingkungan, lanjut Amin, WALHI Sulawesi Selatan bersama YPL Sulsel saat ini juga sedang menajalankan program pengelolaan sampah terpadu di kawasan Bendungan Bili-Bili. 

Pihaknya dan pemilik lesehan sedang bekerja untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik lalu menjualnya ke pabrik pengolahan sampah plastik. 

Baca Juga: Koalisi Save Spermonde Gelar Dialog Publik, Wilayah Tangkap Nelayan Terdegradasi

“Untuk masalah sampah makanan, masyarakat sedang mengembangkan tempat sampah organik, di mana ke depan tidak akan ada lagi masyarakat yang membuang sampah makanan mereka karena dimasukan ke dalam drum dan diurai oleh magot. Jadi masalah lingkungan bukan alasan untuk memindahkan warga,” sebutnya.

Amin melanjutkan bahwa dirinya bersama masyarakat di sekitar Bendungan Bili-Bili mulai khawatir dengan rencana penataan DAS Jeneberang. Ia menduga salah satu agenda penataan adalah penggusuran masyarakat

“Bila prediksi kami benar, maka kami akan mendampingi masyarakat di sekitar kawasan Bendungan Bili-Bili agar tidak digusur dan dipindah paksa oleh pemerintah,” ucap Amin.