Wali Kota Makassar Mainkan Politik Ambivalen

Wali Kota Makassar Mainkan Politik Ambivalen

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Hasrullah memberikan pandangannya ihwal keluarnya Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto atau Danny Pomanto dari Partai NasDem.

Menurutnya, kader NasDem tidak mudah keluar karena partai tersebut memiliki ideologi yang kuat. Awalnya, NasDem didirikan sebagai organisasi masyarakat (ormas), bukan sebagai partai politik. Menurut Hasrullah, orang-orang yang telah berjuang sejak masa ormas sulit untuk keluar dari partai.

“Motifnya apa pindah partai,” kata Hasrullah, Rabu, 5 Juli 2023.

Ia mengatakan perpindahan kader partai bukan semata-mata karena “kutu loncat” semata. Menurut Hasrullah, motif perpindahan Danny Pomanto atau DP terkait dengan adanya disharmonisasi di internal Partai NasDem.

Selain itu, kata dia, adanya permasalahan hukum yang menimpa DP terkait kasus PDAM dan NasDem dinilai tidak bisa membantu.

Baca Juga

“Orang-orang yang memiliki ideologi partai akan tetap setia meskipun menghadapi situasi sulit sekali pun,” kata dia.

Hasrullah juga mengamati bahwa DP sebelumnya mencari partai politik saat mencalonkan diri sebagai wali kota. Namun setelah diterima, memilih lompat ketika partai dalam keadaan tidak stabil. Ia menyatakan oportunisme dalam politik adalah hal yang wajar, terlebih DP bukan orang politik.

Kekuatan Politik Punya Pengaruh Besar Menentukan Penanganan Kasus Hukum

Hasrullah mencontohkan kasus RS Batua yang sempat dikaitkan DP pada 2021, saat itu Kejaksaan Agung berasal dari NasDem dan ia meminta perlindungan. Ia pun mendapatkan pembelaan kuat dari Wakil Ketua Umum DPP NasDem Sulsel Ahmad Ali.

“Orang akan melihat bahwa dia opurtunis, selalu melihat keuntungan dan kesempatan,” tuturnya.

Hasrullah pun mempertanyakan mengapa DP tidak memutuskan untuk pindah partai pada saat kasus tersebut terjadi. Menurutnya, jika DP sudah tidak mendapatkan dukungan dan perlindungan di partainya, ia akan melompat ke partai lain, ini menunjukkan sikap pragmatisnya. Sikap pragmatis dalam politik biasa disebut politik ambivalen.

Hasrullah berpendapat bahwa DP terlihat sebagai seorang oportunis yang selalu mencari keuntungan dan kesempatan. Contoh yang ia berikan adalah tokoh politik di Sulawesi Selatan yang ditinggalkan DP karena perbedaan pandangan politik.

Misalnya, tidak sepaham dengan Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, DP pun meninggalkan Mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, kendati ia yang memberi dorongan untuk maju.

DP juga, kata dia, meninggalkan Partai Gerindra dan bahkan meninggalkan Nurdin Halid (Golkar), terakhir meninggalkan Partai NasDem. Nasrullah menyimpulkan bahwa DP memiliki sifat yang mudah berpindah partai dan mencari keuntungan sendiri.

“Nanti kalau tidak tertolong di partai akan lompat lagi, dia pragmatis sekali,” kata dia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.