Terkini.id, Jakarta – WHO akhirnya buka suara soal kapan Covid-19 akan berakhir, tapi…. Hingga saat ini, virus corona alias Covid-19 masih sedikit menghantui beberpa negara di dunia. Kendati demikian, seiring berjalannya waktu virus ini semakin mudah ditaklukkan dan memiliki jumlah penyebaran yang terus melandai. Bahkan, kendati varian baru Covid-19 Omicron ditemukan muncul.
Pada 21 Desember 2021, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan, ada bukti yang konsisten varian Omicron menyebar secara signifikan lebih cepat dibandingkan varian Delta.
“Fakta orang bepergian selama liburan di berbaga negara, menyebabkan peningkatan pesat dalam jumlah infeksi, membebani sistem kesehatan, dan mengakibatkan lebih banyak kematian,” imbuh Tedros, menyerukan warga dunia untuk membatalkan atau menunda pertemuan massal.
Menurutnya, lebih baik menghentikan ‘permainan’ ketimbang berhenti menjalani ‘kehidupan’.
Selain itu, Tedros juga menyatakan 2022 adalah tahun bagi warga dunia harus mengakhiri pandemi, dan WHO berkomitmen untuk melakukan segala daya guna mencapai tujuan itu.
“Jika kita ingin mengakhiri pandemi, kita harus menghilangkan ketidaksetaraan dengan memastikan 70 persen dari populasi setiap negara di dunia divaksinasi sepenuhnya pada pertengahan tahun depan,” imbau Tedros, seperti dilansir dari Global Times, Kamis 24 Desember 2021.
Akan tetapi, menurut laporan Global Times pada 21 Desember 2021 lalu, beberapa pakar kesehatan China tampaknya masih meragukan klaim Tedros untuk mengakhiri pandemi pada 2022.
Pasalnya, tidak kurang para ahli mengatakan belum ada bukti nyata, yang mungkin mengindikasikan pandemi menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sseorang profesor biomedis di Universitas Hongkong, China, Jin Dongyan berpikir ini adalah ‘awal dari sebuah akhir’. Menurutnya, ada harapan bagi umat manusia untuk mengakhiri pandemi pada 2022.
“Tetapi yang terpenting adalah WHO menunjukkan peran utamanya dalam mengakhiri ketidaksetaraan dalam vaksin dan obat-obatan Covid-19,” imbau Jin Dongyan.
Terkait evolusi varian, ia mengatakan bukti saat ini menunjukkan varian selanjutnya cenderung menyebar lebih cepat, tetapi dengan virulensi yang lebih sedikit. Covid-19 varian Omikron adalah contohnya.
“Kuncinya adalah bagaimana memastikan vaksinasi untuk membangun kekebalan kelompok serta mengembangkan vaksin yang lebih efektif dan tahan lama,” beber Jin Dongyan.
Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Rakyat Ketiga di Shenzhen Lu Hongzhou mengatakan kepada Global Time pada 21 Desember 2021 lalu, mengakhiri pandemi harus bergantung pada cara ilmiah dan teknis, yaitu vaksin dan perlindungan yang lebih efektif.
Sayangnya, imbuh Lu Hongzhou, vaksin Covid-19 dapat mencegah kematian dan mengurangi keparahan pada pasien tetapi tidak dapat mencegah infeksi 100 persen.
“Vaksin yang efektif harus dalam bentuk inhalasi, yang dapat menghasilkan antibodi pernapasan pelindung,” bebernya.
Selain bentuk inhalasi, vaksin suntik juga perlu ditingkatkan untuk melindungi dari infeksi Covid-19. Pasalnya, warga dunia akan memiliki herd immunity setelah semua orang mendapatkan vaksin Covid-19 yang lebih efektif ketimbang vaksin saat ini.
“Hanya dengan begitu kita dapat mengendalikan pandemi,” ungkap Lu Hongzhou.
Adapun seorang ahli imunologi di Beijing yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Global Times tidak ada bukti pandemi akan berakhir lantaran vaksin saat ini tidak 100 persen efektif dan variannya masih terus bermunculan.
“Bahkan jika WHO menyatakan berakhirnya pandemi tahun depan, itu hanya akan dilihat sebagai akhir dari kata-kata ketimbang secara biologis,” tegasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
