WHO Menentang Suntikan Booster Vaksin Covid, Ini Alasannya!

Terkini.id, Jakarta – WHO menentang suntikan booster vaksin covid, ini alasannya! Tersebarnya virus baru varian Delta yang sudah menginfeksi masyarakat di berbagai belahan dunia, yang dikhawatirkan dapat merusak sistem imunisasi vaksinasi yang telah dilakukan sebelumnya, ditanggapi beberapa pemangku kepentingan dengan mengungkapkan wacara suntikan ketiga vaksin, khususnya kepada tenaga kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyatakan, negara-negara kaya seharusnya tidak memesan suntikan penguat untuk warganya yang sudah divaksin. Alasan WHO, saat ini masih banyak negara yang belum kebagian pasokan vaksin Covid-19.

Angka kematian lantaran Covid-19 di dunia kembali meningkat akibat penyebaran virus corona varian Delta yang semakin meluas. Parahnya, semasih banyak negara yang belum kebagian pasokan vaksin, bahkan untuk tenaga kesehatan.

Baca Juga: Kasus Covid-19 di Sulsel Mulai Melandai dan Dibawah Standar WHO,...

“Varian Delta menyebar di seluruh dunia dengan kecepatan tinggi, mendorong lonjakan baru dalam kasus dan kematian Covid-19,” terang Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi virtual pada Senin 12 Juli 2021 lalu.

Seperti diketahui, varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India kini telah menyebar ke lebih 104 negara.

Baca Juga: Minimalisir Penyebaran Covid-19 di Rutan Makassar, Warga Binaan Divaksin

“Ada kesenjangan yang tajam dalam pasokan dan akses ke vaksin Covid-19 di dunia. Beberapa negara dan wilayah telah memesan jutaan dosis vaksin sebagai suntikan penguat (booster), padahal masih ada negara yang belum punya cukup pasokan untuk menyuntik tenaga kesehatan dan orang-orang yang paling rentan,” beber Tedros, seperti dilansir dari insight.kontan.co.id, Rabu 14 Juli 2021.

Ia sendiri mengkritik Pfizer dan Moderna yang menawarkan vaksin mereka sebagai suntikan penguat di negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi. Tedros menyatakan, kedua perusahaan farmasi itu seharusnya mengalokasikan produksi mereka ke Covax, yang menyediakan platform untuk membagikan vaksin secara merata ke negara dengan penghasilan pas-pasan hingga negara miskin.

Selain itu, ada juga alasan ilmiah mengapa WHO menentang suntikan penguat itu. Menurut kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, belum ada bukti yang mendukung perlunya booster bagi mereka yang telah menerima vaksin lengkap.

Baca Juga: Minimalisir Penyebaran Covid-19 di Rutan Makassar, Warga Binaan Divaksin

Kendati begitu, ia tidak menutup kemungkinan jika di masa mendatang ada hasil penelitian yang menyatakan booster dibutuhkan.

“Harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan data, bukan pada masing-masing perusahaan yang menyatakan bahwa vaksin mereka perlu diberikan sebagai dosis booster,” imbuh Swaminathan.

Swaminathan juga tidak menyarankan penyuntikkan vaksin dari produsen berbeda ke seseorang. Ia menyebut, upaya mencampurkan berbagai vaksin Covid-19 itu sebagai tren yang berbahaya.

“Kita berada di zona tanpa data dan tanpa bukti tentang pencampuran penggunaan vaksin,” tegasnya.

Adapun, Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan, bersuara lebih keras terkait kecenderungan negara kaya menimbun vaksin untuk booster.

“Kita akan melihat ke belakang dengan rasa marah, dengan rasa malu, jika ada negara menggunakan dosis yang berharga sebagai booster, sementara pada saat yang sama di tempat lain di dunia, masih banyak orang yang rentan, bahkan sekarat tanpa vaksin,” terangnya.

Bagikan