Terkini.id,Makassar – Yayasan Swadaya Mitra Bangsa (Yasmib) Sulwesi menggelar program peduli Pelatihan Penguatan Kapasitas Bagi Organisasi Disabilitas Kabupaten Gowa yang berlangsung di Hotel Ramedo mulai dari tanggal 16 hingga 19 Juni 2019 hari ini.
Ishak Salim, Ketua PerDIK atau Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan membawakan materi ihwal Indikator aksebilitas Pelayanan Publik dan Strategi Pemantauan Aksebilitas
Pantauan terkini, Ishak membentuk tiga kelompok untuk menilai aksebilitas Hotel Ramedo, penilaian tersebut, kata dia, bergantung pengalaman dari 18 peserta disabilitas.
Kelompok pertama menilai soal kamar dan ruang pertemuan hotel, sedangkan kelompok dua bertugas memberi penilaian terhadap parkiran dan tempat lobi. Terakhir, Kelompok tiga menilai perihal restoran, lift, dan jalur evakuasi hotel.
“Kalau pengalaman teman-teman (disabilitas) pasti sudah sering berinteraksi dengan pemerintah, bangunan-banguna publik pemerintah,” kata dia saat ditemuiĀ terkini.id, Rabu, 19 Juni 2019.
- Yasmib Sulawesi Sosialisasi Peraturan Presiden Tentang Pengadaan Penelitian
- Pantau Implementasi Stranas PK, YASMIB Sulawesi: Faktanya Belum Sesuai Harapan
- YASMIB Sulawesi: Upaya Pencegahan Korupsi Proyek di Sulsel Sangat Minim
- Direktur YASMIB: Upaya Pencegahan Korupsi Proyek 35 Ribu MW di Sulsel Sangat Rendah
- Yasmib Sulawesi Minta Prof Andalan Bangun Sulsel Berdasarkan Data
Hal itu, kata dia, terlihat waktu curah pendapat. Menurut Ishak, ara peserta sudah mengerti ihwal aksebilitas melalui pengalaman mereka terhadap bangunan dan layanan-layanan yang tidak akses melalui sikap diskriminatif.
“Pelatihan ini untuk mempermantap pengetahuan mereka dengan membuat praktek melakukan monitoring terhadap Hotel Ramedo ini. Hingga mereka bisa menerapkan pada organisasi” kata Ishak.
Ishak mengatakan para peserta sudah bisa menyampaikan bahwa ini tidak akses. Namun ada pelatihan ini memberi penjelasan-penjelasn lain seperti rujukan ke aturannya. Meningkat sampai mampu melakukan penilaian sendiri.
“Pengalaman ini nanti mereka bisa terapkan di organisasi masing-masing,” paparnya.
Setelah pelatihan, Ishak menyebut capaiannya bagaimana membangun strategi pemantauan di tingkat kabupaten. Ia mengatakan melihatĀ kapasitas organisasi dan kapasitas individu jika mereka ingin melakukan monitoring terhadap pemerintah daerah.
“Muncul banyak penilaian-penilaian yang mereka lakukan, tetapi itu masih berbasis pengalaman individu, misalnya mereka bisa melakukan semacam survei atau monitoring lebih mendalam di salah satu institusi saja, cukup Didukcapil atau taman gowa yang ramai, sampai pada pelaporan monitoring dan penyampaiannya,” harapnya.
Musa, peserta tunanetra bercerita perihal pengalaman pahitnya saat berkunjung ke mesjid di Gowa. Setiba di mesjid, dirinya mendapat perlakuan buruk lantaran orang mengira dia datang untuk meminta-minta.
“Harusnya dia bertanya dulu, apa keperluan’ta, karena kesannya saya datang meminta-meminta, say datang kesitu karena ada yang ingin saya urus,” kata Musa.
Ia menerangkan bahwa kebetulan pada saat itu dia tak bersama pendamping lantaran naik grab.
Setelah mendapat perlakuan buruk, Musa mengatakan menuju ke samping mesjid dan akhirnya jatuh sekitar tiga meter dalam Got.
“Lalu saya bergerak tambah turun kakiku. Jadi pengalaman untuk ini supaya mesjid-mesjid di Gowa itu kalau ada got, kalau bisa diberi penutup,” harapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
