Abdullah Hehamahua Sedih 6 Laskar FPI Terbunuh: Mereka Calon Pemimpin Bangsa!

Terkini.id, Jakarta – Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) Laskar FPI, Abdullah Hehamahua mengungkapkan kasus yang ia tangani membuat dirinya sedih perihal enam pemuda meninggal tewas ditembak polisi.

“Kucing meninggal saja saya sedih. Ada yang menganiaya saya marah. Ini enam orang. Anak muda yang mempunyai potensi menjadi calon pemimpin masa depan,” ujar Abdullah,dikutip dari Indozone, Kamis, 15 April 2021.

Menurutnya, secara garis besar, kasus penembakan mati 6 anggota laskar FPI tersebut ada unsur politik, tak murni kriminalisasi biasa.

Baca Juga: Sentil Hehamahua Soal Tradisi Yahudi, NU: Kemarin Bangga Ngaku Mirip...

Awalnya, Abdullah Hehamahua mengaitkan kasus ini dengan kepulangan eks imam besar FPI yaitu Habib Rizieq Shihab dari Arab Saudi.

Abdullah yang waktu itu sempat bertemu dengan HRS di Mekkah, Arab Saudi, mengatakan bahwa pada saat itu pemerintah Indonesia tengah melarang HRS keluar dari Arab.

Baca Juga: Ade Armando Sebut Partai Islam Bawa Negera Menuju Kebodohan, Sentil...

Abdullah pun mengherankan kenapa pemerintah kemudian tampak menyambut kedatangan HRS saat tiba di Indonesia.

“Kenapa tiba-tiba di tahun 2020 pemerintah begitu welcome terhadap Habib Rizieq? Ini kan jadi pertanyaan,” katanya.

Lebih lanjut, mantan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menilai adanya unsur politik dalam kasus ini melihat dari rangkain kegiatan yang dilakukan FPI dan HRS usai HRS kembali.

Baca Juga: Sindir Hehamahua Soal Tradisi Yahudi, Ferdinand: Orang Tua Ini Harusnya...

Bahkan ia yakin, benang merah kasus penembakan tersebut dapat ditarik hingga ke soal kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pilgub DKI 2017.

“Nikahan itu aparat pemerintah tahu, intel tahu, kenapa tidak diantisipasi? Ini kan semacam dijebak. Lalu terjadi kasus pelanggaran prokes. Bayar cash Rp50 juta. Ini soal politik, karena 2017, dalam teori politik apapun, Ahok harus menang jadi gubernur,” kata Abdullah.

Menurut Abdullah, kasus ini merupakan pelanggaran HAM berat, mengingat ditemukan sejumlah luka yang tak wajar.

“Saksi (mengatakan), ketika jenazah dimandikan, rata-rata ada dua peluru, sebelah kiri jantung, kemaluan dianiaya siksa, bagian belakang luka bekas, dan bagian depan luka bakar. Kalau Komnas HAM mengatakan di dalam mobil, bagaimana menganiaya di dalam mobil?” katanya.

Sebagai informasi, mati 6 anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) yang dinyatakan meninggal dunia usai ditembak oleh polisi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada 7 Desember 2020 lalu.

Bagikan