Terkini.id, Jakarta – Muhammad Rahmad, Wakil Sekjen Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang mengungkapkan alasan mengapa para penggagas memilih Moeldoko sebagai ketua umum.
Alasan tersebut dikemukakan Rahmad dalam acara bincang bersama Akbar Faizal yang ditayangkan pada Kamis, 18 Maret 2021.
”Pertama, karena kita berpikir Pak Moeldoko jenderal bintang 4,” ujar Rahmad dalam video yang ditayangkan akun youtube Akbar Faizal Uncencored.
Sebagai jenderal bintang empat, kata Rahmat, Moeldoko dipandang sebagai sosok yang tepat dalam pertempuran dengan kubu Cikeas.
Menurut Rahmad, Moeldoko sebagai Jenderal bintang empat akan mampu berhadapan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga bintang empat.
- Sebut Kubu Moeldoko Kalah 8-0 Lawan Kubu AHY, Politisi Demokrat: Jenderal Dikalahin Mayor
- Ruhut Sitompul Sebut Demokrat Hanya Masa Lalu: Sekarang Bangga Jadi Kader PDIP, Paten Merdeka
- Gugatan Yusril Ditolak MA, Demokrat: Begal Dimanapun Selalu Kalah
- Demokrat Sebut Yusril Minta Bayaran 100 M, Kubu Moeldoko: Kami Tidak Selera Tanggapi Pernyataan Panik dan Jurus Mabuk
- Rachland: Apa karena Demokrat Tak Sanggup Bayar 100 M maka Yusril Pindah Membela Kubu Moeldoko?
”Kami pandang Pak Moeldoko mampu menghadapi Pak SBY, yang sama-sama bintang 4 walaupun hadiah,” kata Rahmad yang juga merupakan mantan Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Demokrat 2010-2015.
Alasan kedua, Rahmad mengatakan bahwa timbul simpati dari para senior dan pendiri Partai Demokrat ketika Moeldoko membantu meringankan beban kader partai yang terkena musibah banjir di Kalimantan.
Selanjutnya, Rahmad juga mengemukakan bahwa para penggagas KLB ingin mengangkat kembali elektabilitas Partai Demokrat yang semakin turun.
Para penggagas, kata Rahmat, kemudian memiliki niat meminta Moeldoko menjadi pimpinan Demokrat setelah mau membantu para kader.
”Kita kan ingin mengangkat kembali elektabilitas Partai Demokrat yang terus merosot, maka setelah melihat beliau mau bantu kader, para senior punya gagasan bagaimana kalau Pak Moeldoko diminta pimpin Demokrat, mungkin beliau mau. Karena desakan KLB kan sebenarnya sudah lama,” ujarnya.
Lalu, lanjut Rahmad, keinginan para penggagas tersebut disampaikan pada Moeldoko pada sekitar Oktober 2020.
Moeldoko disebut sempat menolak namun kemudian mengiyakan setelah dituduh oleh SBY sebagai dalang kudeta.
”Waktu itu Pak Moeldoko menolak. Beliau baru benar-benar bersedia pada tanggal 4 Maret lalu,” tutur Rahmad.
“Itu pun setelah ditantang Pak SBY. Maksudnya dituduh sebagai otak di balik kudeta dan diberitakan secara masif. Bahkan Pak SBY mengatakan menyesal pernah mengangkat beliau, itu kan menyakitkan,” ungkapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
