Terkini.id, Makassar – Kehadiran PT Pramos mengancam mata pencaharian penduduk di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, karena mayoritas dari mereka menggantungkan hidup dari bertani lada di wilayah tersebut.
Terdapat potensi bahwa tanah mereka akan direbut oleh perusahaan. Langkah ini diambil seiring minat PT Pramos untuk mendirikan dan mengelola operasi pertambangan nikel di wilayah Loeha Raya.
Penduduk Loeha Raya, yang terdiri dari Desa Bantilang, Masiku, Rante Angin, Biau, dan Loeha, berupaya menentang dan menolak kehadiran PT Pramos di daerah mereka.
Mereka berpendapat bahwa Izin Usaha Penambangan (IUP) memiliki kecacatan karena lokasi tambang yang ditetapkan dianggap tidak tepat.
Komunitas yang tinggal di lima desa tersebut, yang terletak di seberang Danau Towuti, secara utama mengandalkan pertanian lada sebagai sumber pendapatan utama.
- Bersama Bergerak Membangun Desa, Semangat Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama TMMD ke-128 Jeneponto
- ARYADUTA Makassar Kampanyekan Hidup Sehat Lewat "Tjakap Djiwa"
- Kokoh Berjuang, Bersama Menuju Kemenangan, Muscab IX PPP Jeneponto Sukses Digelar, PAC Dukung Pimpinan Berkelanjutan
- Gubernur Sulsel Sabet Award Nasional, Program MYP Jadi Bukti Nyata Pembangunan Infrastruktur
- Bahas Penyakit Mematikan, RSUP Wahidin Hadirkan Pakar Dunia di WISE 2026
Namun, kedatangan potensial aktivitas pertambangan mengancam sumber mata pencaharian ini.
Zulkifli Hamid, Dosen Ekonomi di Universitas Muslin Maros, menilai gagasan bahwa pertambangan akan membawa kemakmuran bagi ekonomi masyarakat telah dibantah oleh tingkat pendapatan sebenarnya dari petani lada.
“Jika pertambangan dipandang sebagai solusi untuk peningkatan ekonomi masyarakat, saya percaya itu bukanlah jawabannya karena masyarakat dapat membeli Pajero, dapat menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil panen lada, dan itu terbukti hingga hari ini,” tuturnya.
Sementara, Pengamat lingkungan, Amir Mahmud, memperingatkan bahwa kehadiran aktivitas pertambangan akan menyebabkan krisis air dan menciptakan pembagian di antara masyarakat.
“Penebangan pohon secara tidak langsung mengurangi penyimpanan air tanah, menyebabkan air mengalir langsung ke muara, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tuturnya.
Selain itu, jam kerja yang padat di perusahaan dapat mengurangi hubungan sosial dan berpotensi mendorong persaingan dan saling menjatuhkan di antara penduduk.
Penulis: Muh Fathurrahman
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
