Tanggal: Jumat, 28 Februari 2025
Waktu: Pukul 17.00 WIB hingga selesai
Lokasi: Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat
Sidang ini akan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Lembaga ilmiah seperti BMKG, BIG, BRIN, dan Observatorium Bosscha ITB juga akan memberikan paparan terkait kondisi astronomi.
Sidang isbat menjadi momentum penting dalam menyatukan pandangan berbagai pihak, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadinya perbedaan penetapan awal Ramadhan antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah.
- Harga Pupuk Subsidi di Bone Tembus Rp110 Ribu, DPRD Sulsel Soroti Dugaan Permainan Distribusi
- Stadion Ganggawa Kembali Bergairah, Bupati Syaharuddin Alrif Resmi Buka Sidrap Cup 2026
- Pupuk Indonesia, Penyuluh dan Petani Klarifikasi Pemberitaan Soal HET dan Penjualan Paket di Bone
- Ancaman El Nino Mengintai, Anggota DPRD Makassar Hj Umiyati Minta Direksi Definitif PDAM Segera Ditetapkan
- Dinkes Jeneponto Perkuat Koordinasi dan Sinergi Program Percepatan Penurunan Stunting 2026
Perbedaan Metode Penentuan Awal Puasa
Perbedaan awal Ramadhan di Indonesia umumnya disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan oleh pemerintah, NU, dan Muhammadiyah.
Pemerintah dan NU menggunakan rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal setelah matahari terbenam pada 29 Syaban. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi yang menetapkan awal bulan hijriah berdasarkan keberadaan hilal di atas ufuk, tanpa harus terlihat secara langsung.
Awal Ramadhan 2025 Versi Muhammadiyah
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
