Terkini.id, Konawe – Beredar kabar di media sosial yang menyebutkan bahwa Bupati Konawe, Sulawesi Tenggara, Kery Saiful Konggoasa, mengaku disuap oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan soal TKA asal China.
Kabar tersebut sebelumnya diberitakan oleh situs Konfrontasi.com dalam artikelnya berjudul “Bupati Konawe Akui Disuap Menko Luhut Soal 500 TKA China” yang dimuat pada 3 Mei 2020.
Dalam artikel itu mengutip pernyataan Bupati Konawe dalam program “Apa Kabar Indonesia Pagi” yang tayang di stasiun televisi tvOne.
Artikel pemberitaan tersebut mengungkap adanya campur tangan pihak pemerintah pusat dalam rencana kedatangan 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara.
Artikel itu juga dibagikan ulang oleh salah seorang pengguna Facebook dengan nama akun El Shirazy pada 4 Mei 2020.

- TKA Asal China Diduga Bekerja Secara Ilegal di Batam
- 191 WNA China Penuhi Bandara Soekarno Hatta, Netizen: Mereka Adalah Ancaman Anak Cucu Kita
- Heboh WNA China Punya KTP Elektronik, Netizen: Banyak yang Jadi Pengkhianat Bangsa Demi Uang Segepok
- Pesan Sutiyoso Untuk Grace Natalie: Saya Nasionalis Sejati Bukan Rasis
- Grace Natalie Kena Sentil Roy Suryo Soal TKA China: Sis Grace ini Bela Siapa? Ambyar
Namun, Tim CekFakta Tempo.co telah memeriksa pernyataan Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa dalam program “Apa Kabar Indonesia Pagi” di tvOne yang dikutip oleh Konfrontasi.com.
Video itu diunggah oleh kanal YouTube milik tvOne, Talk Show tvOne, pada 28 April 2020 dengan judul “Warga Resah 500 TKA China Datang, Bupati Konawe Ngaku Tidak Ada Pemberitahuan Resmi”.
Dalam video tersebut, pernyataan Kery yang dikutip oleh Konfrontasi.com dimulai dari menit 1:10 hingga 3:01. Di bagian awal, Kery menyatakan penolakannya terhadap rencana kedatangan 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara.
“Karena kita sudah sepakat bahwasannya Covid-19 ini kita selesaikan dulu, baru masuk tenaga asing, karena akan mempengaruhi kondisi daerah ini,” ujar Kery dalam video itu.
“Tapi, kalau memang pemerintah pusat mau bicarakan bagaimana baiknya, ya tidak ada persoalan, kalau sudah perintah pemerintah pusat. Tapi, yang sekarang kita harapkan betul-betul, TKA yang masuk Konawe benar-benar steril dari virus Corona. Mungkin saya akan bicarakan dengan Pak Gubernur (Sulawesi Tenggara) bagaimana teknisnya,” sambungnya.
Setelah membicarakan soal rencana kedatangan 500 TKA China itu, Kery menyampaikan masalah ekonomi yang dihadapi di kala pandemi Covid-19 serta bantuan dari perusahaan yang berencana mendatangkan 500 TKA China itu, PT Virtue Dragon Nickel Industry, dan pemerintah pusat.
Dalam konteks inilah Kery menyinggung janji Luhut terkait bantuan. Dalam wawancara itu, Kery juga tidak menyinggung masalah suap seperti yang ditulis Konfrontasi.com.
Berikut ini pernyataan lengkap Kery dalam video di tvOne:
“Karena perlu kita ketahui, negara kita juga perlu ekonomi. Sebab, kalau kita terlalu keras dalam hal ini, bagaimana kita mau punya kehidupan? Sebab, kita juga masih mengharap pendapatan, pendapatan daerah atau apa. Ya mudah-mudahan Corona ini cepat selesai. Kita juga harapkan perusahaan ini juga memperhatikan masyarakat Konawe. Jangan kecamatan saja. Saya sudah menyurat sampai ke Cina soal bantuan. Tapi, sampai sekarang, enggak ada bantuan dari perusahaan itu. Bagaimana? (Padahal) kapalnya sudah pulang ke Cina. Menko Maritim katakan, ‘Sudah Ker, apa yang kau minta kita siapkan.’ Tapi kenyataannya juga sampai sekarang belum ada kita terima bantuan. Bagaimana kita ini?”.

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo pada 1 Mei 2020, Kementerian Tenaga Kerja telah menunda kedatangan 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara.
“Saat ini perusahaan pengguna sudah menunda proses kedatangan TKA dimaksud,” kata pelaksana tugas Dirjen Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kemenaker, Aris Wahyudi, kepada Tempo, 30 April 2020.
Sedianya, 500 TKA China itu akan tiba pada 22 April lalu. Namun, gubernur, DPRD, hingga masyarakat Sulawesi Tenggara menolak.
Aris juga mengatakan kedatangan itu tidak bisa dilakukan di tengah pengendalian transportasi saat ini. Perusahaan bakal menunda kedatangan TKA itu hingga waktu yang belum ditentukan.
“Konon, konsekuensinya, operasional perusahaan dapat terganggu dan berisiko perumahan tenaga kerja lokal,” ujar Aris.
Aris mengakui bahwa Kemenaker memang menyetujui Rencana Penggunaan TKA (RPTKA) China yang diajukan dua perusahaan, yakni PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel.
Namun, ia menjelaskan bahwa bukan berarti buruh China akan langsung tiba di Indonesia ketika RPTKA disetujui.
“Setelah RPTKA disahkan, bukan berarti TKA besok pagi atau minggu depan tiba di tanah air,” katanya.
Persetujuan kedatangan TKA itu sebelumnya tertuang dalam surat bernomor B-3/10204/PK.04/IV/2020 tertanggal 15 April 2020 yang ditandatangani Aris.
Surat itu merupakan tindak lanjut permohonan RPTKA yang diajukan kedua perusahaan tersebut pada 1 April 2020.
Dalam suratnya, Aris mengatakan RPTKA dua perusahaan itu diterima setelah mempertimbangkan legalitas dan kepentingannya.
Aris pun meminta kedua perusahaan tersebut untuk berkoordinasi dengan pemangku kepentingan di Sulawesi Tenggara terkait mitigasi dan penerapan protokol Covid-19.
Sementara itu, Juru bicara Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi, mengatakan rencana kedatangan dari 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara adalah untuk kebutuhan penyelesaian pembangunan proyek industri agar dapat segera rampung.
“Sehingga bisa mulai menjadi salah satu pencipta lapangan kerja dan sumber pendapatan, pembangunan daerah, di sana,” ujarnya kepada Tempo pada 30 April 2020.
Oleh karena itu, Jodi menegaskan bahwa kedatangan TKA China tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
“Tidak ada kepentingan Pak Luhut pribadi di sana selain hanya ingin melihat kemajuan daerah dan Indonesia sebagai pemain utama dalam peningkatan nilai tambah komoditas nikel,” katanya.
Berdasarkan pemeriksaan dari Tim Cekfakta Tempo, maka dapat disimpulkan bahwa narasi dalam artikel di Konfrontasi.com yang menyebutkan Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa mengaku disuap oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan terkait kedatangan 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara, adalah konten narasi menyesatkan.
Pasalnya, dalam video program “Apa Kabar Indonesia Pagi” di tvOne yang dikutip oleh Konfrontasi.com, tidak terdapat pengakuan Kery soal suap oleh Luhut terkait kedatangan 500 TKA China.
Sementara terkait janji mengenai bantuan dari Luhut tidak dalam konteks kedatangan 500 TKA China. Janji Luhut itu disinggung Kery ketika ia membicarakan masalah ekonomi yang dihadapi di kala pandemi Covid-19 serta bantuan dari perusahaan yang berencana mendatangkan 500 TKA China itu dan pemerintah pusat.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
